Johor Bahru – Gedung Risda, Johor, Sabtu pagi (24/5) bukan hanya menjadi ruang seminar, melainkan juga panggung rindu yang disuarakan dalam bait-bait makalah, syair, dan gagasan.
Di sinilah Dialog Selat Tebrau (DST) menggelar seminar antarabangsa perdana bertajuk “Pemartabatan Persuratan Melayu dalam Zona Ekonomi”. Sebuah upaya menyulam kembali benang sejarah dan sastra antara Johor dan Kepulauan Riau (Kepri) yang pernah bersatu dalam kemilau Kesultanan Melayu.
Seminar ini merupakan bagian penting dari rangkaian DST yang diprakarsai oleh Perhimpunan Penulis Johor (PPJ) dan Persatuan Penulis Kepulauan Riau (PPKR), dua organisasi penulis yang kini memikul misi bersama: menyatukan semula serpihan sejarah dan budaya Melayu dalam ikatan persuratan dan pemikiran.
Sesi pertama dibuka oleh Prof Dr Kassim Tukiman, budayawan dan sejarawan dari Yayasan Warisan Johor. Ia menyoroti absennya undang-undang khusus kebudayaan di Johor.
Namun menurutnya, nilai dan falsafah budaya Melayu tetap mengalir dalam hampir seluruh perangkat hukum negeri tersebut.
“Johor memang tidak punya undang-undang seperti UU Pemajuan Kebudayaan yang dimiliki Indonesia, tapi budaya Melayu tetap hidup dalam roh hukum kami,” ujarnya menjawab pertanyaan peserta.
Dari Kepri, Prof Abdul Malik, guru besar Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), membentangkan sejarah eratnya hubungan Johor dan Kepri, dua kawasan yang dahulu menyatu dalam Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1528–1824).
“Persebatian ini adalah fondasi kokoh untuk membangun sinergi ekonomi dan budaya. Kita boleh berpisah secara geopolitik, tapi jangan geobudaya,” ujar Malik tegas, menggugah tepuk tangan hadirin.
Salah satu sesi yang menarik datang dari Shamsudin Othman, dosen Universiti Putra Malaysia. Dalam nada provokatif namun puitis, ia menyebut bangsa Melayu, khususnya Riau dan Johor, sebagai bangsa yang “menderita sebab rindu”.
Rindu akan kejayaan dan kemesraan masa lalu. Rindu yang, menurutnya, adalah penyakit yang dicari. “Bahasa itu adab, akhlak, dan budaya. Ketika bahasa musnah, bangsa turut punah,” katanya, mengutip pandangan Ibnu Khaldun.
Sementara itu, budayawan dan sastrawan Dato’ Rida K Liamsi menyerukan agar para penulis kembali menyelami sejarah sebagai sumber inspirasi utama.
Ia mengingatkan, banyak kisah-kisah kemelayuan dalam konteks kemaharajaan Riau-Johor yang belum tergarap.
“Karya sastra terbaik adalah karya yang mereguk madu sejarah. Bahkan, ia akan menjadi sejarah itu sendiri,” ujar penulis novel sejarah Bulang Cahaya ini.
Bukan Sekadar Dialog, Tapi Mufakat Budaya
DST sendiri lahir dari tekad membangun kembali jembatan kultural lintas negara. Gagasan ini pertama kali diluncurkan di Tanjungpinang pada 26 Mei 2024. Penyelenggaraan di Johor, dari Jumat hingga Sabtu (23–24 Mei), menjadi tonggak pelaksanaan pertamanya.
Ketua PPJ, Amiruddin Md Ali Hanafiah, mengatakan, DST bukan hanya ajang silaturahmi penulis, tetapi juga platform strategis membincangkan peran sastra dan penulis dalam membangun tamadun.
“Kami ingin karya penulis dari Johor dan Kepri lebih banyak muncul dan memberi dampak pada pembentukan jati diri bangsa,” ujarnya.
Sementara Ketua PPKR, Dato’ Huzrin Hood, berharap kegiatan ini berkelanjutan dan dilandasi semangat ukhuwah dan tauhid. Dalam sambutannya pada malam pembukaan, ia membacakan pantun penuh harap:
Orang Melayu suka bergurau
Kalau ketawa tak dapat ditahan
Hari ini kita bersua di Selat Tebrau
Esok mari berjumpa di Selat Bintan
Dialog Selat Tebrau bukan sekadar seminar, ia adalah panggilan untuk kembali mencintai akar, menulis dari rindu, dan membangun masa depan dari sejarah yang berserak.
Ketika bahasa dijaga, budaya dirawat, dan sejarah ditulis ulang dengan cinta, maka tamadun Melayu bukan hanya dikenang, tapi dilanjutkan. Di Johor, pada hari itu, Selat Tebrau tak sekadar memisahkan, ia menyatukan kembali. (ramon damora)






