Minda  

Pujangga Herrymen

SABTU (14/5) malam di Senapelan, Pekanbaru, langit bergelimang cahaya rembulan dan puisi. Dari panggung kecil yang dikelilingi aroma sejarah, juga siluet Rumah Singgah Tuan Kadi, seorang jenderal berdiri dengan tanjak di kepala, sajak di dada.

Namanya Herry Heryawan. Seorang Inspektur Jenderal. Kapolda Riau. Tapi malam itu, dalam bentangan kegiatan Festival Budaya Melayu, Bang Herrymen —begitu kami para wartawan memanggilnya akrab — adalah seorang penyair. Pujangga.

Ia membacakan puisi berjudul Tanah Melayu. Sebuah seruan, deklamasi batin, di antara daun-daun yang bersujud dan Sungai Siak yang terjaga. Videonya beredar, viral, dibagikan oleh banyak akun media sosial.

“Kau sudah lihat?” tanya Jenderal Herrymen tadi malam selepas Isya di seberang telepon. Dua kali, jawab saya. Yang pertama, takjub. Kali kedua heran: mengapa dulu saat lama bertugas di Kepri, negerinya kata-kata, tak menonjol benar bakat puitis ini?

***

“Jika kau cinta tanah

Maka cintailah angin

Maka jagalah sungai

Maka rawatlah hutan…”

Suara sang jenderal bergetar membacakan bait demi bait. Suara yang datang dari dalam keyakinan yang telah lama tumbuh.

Di tengah dunia yang semakin gaduh dan tak sabar, keberanian seorang pemimpin untuk berbicara lewat puisi adalah tindakan revolusioner. Ini bukan sekadar pendekatan baru dalam komunikasi, ini adalah tanda bahwa jabatan tidak mematikan kelembutan.

BACA JUGA:  Squid Game 3: Dunia Tanpa Pemenang

Bahwa kekuasaan tidak harus kehilangan rasa. Bahwa seorang jenderal dapat sekaligus menjadi penjaga marwah dan penyair yang merawat tuah.

Irjen Herry Heryawan lahir di Ambon, pada 23 Februari 1972. Herry tumbuh, bersekolah, berdinas, dan menjelajah dari satu kota ke kota lain, satu medan operasi ke pengintaian berikutnya. Herry mendaki jenjang kepolisian bukan dengan kegaduhan, tapi dengan konsistensi.

Dari Semarang ke Tanjungpinang, dari pemburuan bandar narkoba di Anyer, penangkapan tokoh preman legendaris hingga menggagalkan aksi terorisme. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif kita tentang keamanan, bahkan ketika namanya tidak selalu terpampang di layar utama.

Tapi Riau memberinya panggung berbeda. Di Tanah Melayu, jenderal menjelma menjadi Herry yang menyatu dengan lanskap lokal. Herry tak datang membawa kuasa, ia membawa kehormatan, dengan slogan “Melindungi Tuah, Menjaga Marwah.”

Dalam satu kalimat itu, termaktub seluruh falsafah kepemimpinannya. Bahwa adat bukan untuk dijadikan aksesoris, tapi nafas dalam cara bertindak. Bahwa lingkungan bukan objek pengamanan, tetapi subjek yang harus dibela. Bahwa Melayu bukan sekadar identitas lokal, melainkan jalan etis yang mengikat antara manusia dan alam.

BACA JUGA:  Syukron

Puisi yang ia bacakan, ditulis bersama aktor Nandika Putra, tentu bukan sekadar peringatan ekologis. Puisi Tanah Melayu adalah manifesto. Bahwa bumi adalah titipan. Dan polisi yang mengerti makna titipan adalah mereka yang menjaga keamanan kota, menjaga nafas hutan, aliran sungai, bahkan bisik angin di pesisir.

Maka tidak heran jika dalam berbagai program kerja di Riau — negeri kaya sumber daya yang tak henti didera ancaman kerusakan alam — Irjen Herry tak ragu mengajak seluruh institusi dan masyarakat menanam pohon, membersihkan sungai, menyisir kawasan yang terancam sampah dan kelupaan.

Herrymen tahu, keadilan adalah urusan antar manusia dengan manusia, antara manusia dan ekosistemnya. Ia, misalnya, kerap menyebut, “Kita harus menumbuhkan keadilan kepada lingkungan dan kepada alam.”

Dalam sistem yang kerap terjebak pada logika reaktif dan represif, hadirnya pemimpin seperti Herry Heryawan adalah angin yang segar sekaligus langka. Ia membawa keteduhan dalam disiplin, dan budi dalam tindakan. Ia tak membentak-bentak jelata, tapi mengajak bicara secara anggun lewat syair dan puisi.

Tahun 2024 lalu, Herrymen resmi menyandang gelar doktor. Disertasinya tentang kedamaian: Upaya Pemolisian dalam Menghadapi Kompleksitas Persoalan di Papua. Di situ, sekali lagi, ia menunjukkan bahwa menjadi polisi hari ini tidak cukup hanya dengan menguasai senjata dan strategi, tetapi juga kesanggupan membangun dialog, memperkuat pelibatan sosial, dan menumbuhkan kepercayaan.

BACA JUGA:  DUBALANG

Di ruang-ruang akademik Herry menunduk hormat di hadapan para profesor. Di ruang publik, ia akrab bercengkerama dengan Ustad Abdul Somad dan Rocky Gerung, berbaur dengan para seniman, dengan rakyat kecil. Dan di panggung Festival Melayu akhir pekan lalu itu, ia bersyair dengan mata yang hampir basah.

“Takkan Melayu hilang di bumi,” katanya mengutip ungkapan lama. Di balik kutipan itu, terselip janji diam-diam bahwa seorang Herry Heryawan akan menjadi bagian dari mereka yang memastikan Melayu tetap tegak berdiri. Lewat kebijakan, lewat keteladanan, dan, siapa sangka, lewat puisi.

Maka ketika suatu hari kelak, tanah ini menyebut namanya, semoga bukan hanya karena pangkat dan prestasi, tetapi karena ia pernah menuliskan bait-bait kebaikan dalam laku sehari-hari: Melindungi tuah. Menjaga marwah. Dengan senyap. Tapi sungguh.

Apalah tanda punak berbuah

Dari jauh nampak putiknya

Apalah tanda jenderal bertuah

Budi senonoh nampak cerdiknya

Shabas, Pujangga! (ramon Damora)