SQUID GAME telah tiba pada akhirnya. Tak ada ledakan. Hanya sunyi yang panjang. Musim ketiga ini bukan lagi tontonan belaka. Ia adalah cermin, yang retak, melengkung, kadang memperbesar, kadang memperkecil, yang memperlihatkan betapa rapuhnya defenisi kita tentang kemenangan.
Sejak pertama kali muncul pada 2021, serial ini menjelma jadi fenomena. Squid Game adalah narasi kolektif yang dibisikkan oleh jutaan orang di sela kesunyian hidup kota besar, kantor sempit, atau antrean panjang pencari kerja. Karakter-karakternya; Gi-hun si pengangguran, Ali si migran pekerja pabrik, hingga Sang-woo si sarjana korup, bukan tokoh fiksi. Mereka adalah kita. Atau setidaknya, orang-orang yang kita kenal.
Dalam musim terakhir, yang disebut-sebut sebagai akhir dari segalanya, pertanyaannya tidak lagi siapa yang bertahan hidup. Melainkan, untuk apa bertahan? Dan pada harga yang bagaimana?
Gi-hun memilih mengorbankan dirinya, menyelamatkan bayi dari seorang pemain lain. Sebagian orang menyebutnya sebagai kebodohan yang dikemas sebagai altruisme. Yang lain menyebutnya sebagai satu-satunya keputusan waras dalam dunia yang sudah lama kehilangan arah moral. Tapi mungkin kebenaran terletak di antara keduanya.
Hwang Dong-hyuk, pencipta Squid Game, tahu bahwa tidak semua orang akan puas. Musim pertama, kejutan. Musim kedua, pembuktian. Musim ketiga? Renungan! Dan seperti semua renungan, ia tidak menawarkan jawaban, hanya lebih banyak pertanyaan.
“Manusia adalah…” bisik Gi-hun dengan sorot mata tajam kepada para VIP di sebalik kaca, lalu menghempaskan dirinya ke bawah menara dalam sebuah slow motion yang bagi saya lebih merupakan suatu konklusi niscaya. Bahwa manusia adalah bertindak, berkorban…
Apa yang membuat Squid Game begitu menggigit bukan tersebab kekerasan yang dikoreografikan seperti opera. Tapi karena ia memaksa kita untuk mengakui sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Bahwa sistem ini —kapitalisme yang kompetitif, meritokrasi palsu, kekuasaan tanpa akuntabilitas— tidak perlu diselewengkan untuk menjadi kejam. Ia kejam karena itulah cara kerjanya.
Dan di Korea Selatan, negeri yang digambarkan sebagai raksasa ekonomi dengan wajah pop culture paling memesona saat ini, duka nestapa sosial justru semakin terlihat jelas di bawah lampu sorot global. Kesenjangan. Bunuh diri. Stres. Takut gagal. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan pada nilai ujian dan ketidakmampuan orang tua membayar cicilan.
Namun yang paling menyentuh adalah bahwa Squid Game tidak pernah sepenuhnya menyerah pada pesimisme. Selalu ada titik kecil cahaya yang memang tidak terang, tapi cukuplah untuk membuat kita tetap duduk menyaksikan. Cukup untuk membuat seorang guru bimbingan konseling di Korea menuliskan: menonton Squid Gamemembuat saya merenungkan diri sendiri, apakah kebaikan benar-benar bisa mengubah sesuatu?
Pertanyaan itu ialah inti dari segalanya.
Bukan tentang apakah Gi-hun menang atau kalah. Tapi tentang pilihan-pilihan kecil yang kita buat dalam dunia yang membuat kita percaya bahwa hanya ada satu pemenang. Padahal kadang, menolak bermain pun adalah kemenangan.
Dan mungkin itu pelajaran sesungguhnya dari Squid Game. Bahwa dalam dunia yang terus-menerus memaksa kita untuk bersaing, bertahan, menyingkirkan yang lain, satu-satunya cara untuk benar-benar menang adalah dengan memilih sesuatu yang lain sama sekali.
Sesuatu yang seperti kebaikan. Yang tidak performatif. Yang tidak strategis. Yang tidak logis. Hanya, dan hanya…kebaikan. (ramon damora)






