SYUKRON bukan orang sembarangan. Syukron memilih jalan tak biasa. Di gurun yang bisu, cintanya kepada Tuhan menjelma kesunyian paling nyaring.
Siang belum lewat betul ketika kabar itu datang. Jumat, 27 Mei 2025, langit Jazirah tampak biasa saja. Tapi di suatu lekuk gurun Tan’im, sekitar 5 kilometer dari Masjidil Haram, seorang lelaki ditemukan terbujur. Kaku. Kering. Sepi.
Syukron Mahbub, nama lengkapnya.
Syukron bukan jama’ah resmi. Syukron juga bukan warga lokal. Syukron membawa rindu yang terlalu penuh. Rindu sujud di Tanah Suci, tanpa harus menunggu giliran yang ditangguhkan negara.
Syukron datang dengan visa ziarah. Bukan visa haji. Syukron menumpang taksi gelap, menembus pos pemeriksaan, bersama dua kawan. Tapi Syukron tak sampai. Syukran ditemukan wafat di padang pasir karena dehidrasi. Syukron dimakamkan di Riyadh.
Syukron pergi, bahkan sebelum tiba.
Syukron bukan warga biasa. Syukron dosen tetap di Universitas Islam Madura. Kepala Program Studi Hukum Keluarga Islam. Umurnya 42 tahun.
Syukron paham hukum. Syukron mengajarkan fikih. Syukron tahu persyaratan sah ibadah. Barangkali Syukron juga tahu, ada cinta yang tak bisa dijelaskan regulasi.
Kepada istrinya, Syukron berpamitan dengan biasa. Kepada kampus, Syukron mengajukan cuti rutin. Kepada agen travel, Syukron menyerahkan harap.
Syukron percaya bahwa Tuhan tak terlalu jauh dari upaya manusia. Dan barangkali pula, Syukron percaya sekali ini, sistem bisa dibengkokkan oleh niat mulia.
Padang pasir adalah metafora yang terlalu mudah. Tapi untuk Syukron, ia bukan kiasan. Ia nyata. Tempatnya wafat bukan hanya hamparan pasir, tapi garis batas antara harapan dan kenyataan.
Syukron ingin masuk ke Tanah Suci, tapi ditahan oleh struktur yang mengharuskan antrean, kuota, dan kelengkapan administratif.
Syukron lelah. Lelah karena fisik, lelah karena hasrat rohani yang tak juga menemukan jalan.
Negara kita telah mengatur segalanya. Haji adalah urusan regulatif. Ada daftar tunggu dua dekade. Ada biaya tetap. Ada slot kuota yang ditentukan Arab Saudi. Di tengah semua itu, ada manusia-manusia seperti Syukron yang merasa waktu tak lagi cukup.
Maka pasar alternatif tumbuh. Travel gelap. Agen haji nonresmi. Visa turis yang disulap jadi jalur cepat menuju Ka’bah. Pelanggaran dan peringatan sekaligus. Bahwa kerinduan kepada Tuhan bisa berubah menjadi komoditas, dan iman yang melenting kadang bisa menabrak aturan.
Syukron bukan orang yang tidak tahu. Justru karena Syukron tahu, maka ia berani. Ada orang yang nekat karena polos, ada pula yang nekat karena sadar bahwa ia tak punya banyak waktu lagi untuk berharap.
Syukron bukan korban tunggal. Syukron bagian dari sebuah zaman. Zaman ketika haji bukan hanya spiritualitas, tapi juga birokrasi. Ketika orang yang ingin menyusul Ibrahim dan Ismail harus lebih dulu mengisi formulir, surat sehat, dan jadwal keberangkatan dari Kemenag.
Syukron Mahbub, pada akhirnya, tidak salah. Syukron hanya terlalu cepat. Tuhan memanggilnya di pinggiran Sahara. Di tempat sunyi yang hanya dikenal drone dan petugas keamanan. Dari situ, namanya pulang. Masuk ke berita. Masuk ke batin kita.
Syukron tidak sempat mencium Hajar Aswad. Syukron telah mencium sesuatu yang lebih agung: tak semua niat bisa menunggu persetujuan manusia.
Syukron Mahbub sudah dimakamkan. Kisahnya tinggal bersama kita. Syukron bukan contoh buruk. Syukron bukan juga martir. Syukron adalah tanda, bahwa iman tak bisa dimasukkan ke dalam antrian. Bahwa cinta kepada Tuhan kadang terlalu besar untuk dijatah oleh kalender dan kuota.
Di padang pasir itu, kita tak hanya kehilangan satu nyawa. Kita kehilangan satu cermin. Zaman ini membuat iman terasa seperti produk eksklusif, dengan syarat, ketentuan, dan jam buka loket.
Syukron Mahbub telah sampai. Bukan ke Mekkah. Tapi ke sisi lain dari kita. Sisi yang rindu, sisi yang lelah, sisi yang bertanya dalam diam: benarkah Tuhan bisa kita temui hanya lewat jalur resmi? (ramon damora)






