DI dunia yang diciptakan oleh John Wick, peluru melayang seperti bait-bait puisi berdarah, dan kematian bukanlah akhir. Kematian menjadi gerak ritmis dari sebuah simfoni dendam yang belum selesai.
Dari dunia itu lahirlah Ballerina (2025), elegi brutal nan anggun yang disutradarai oleh Len Wiseman, dibintangi oleh Ana de Armas sebagai Eve Macarro, seorang penari balet yang menjadi mesin pembunuh dengan ketenangan seorang penyair di tengah perang.
Film ini tidak hanya menambah cabang pada pohon mitologi Wick. Ballerina memperhalus cabang itu menjadi sebilah pisau.
Ana de Armas adalah Eve Macarro, adalah balerina dalam arti yang paling literal dan metaforis: tubuhnya lentur dan mematikan, setiap gerakannya memiliki koreografi yang merangkul keindahan dan kehancuran secara bersamaan.
Ballerina bukan John Wick, dan justru karena itu ia berhasil. Eve adalah femininitas yang dilukai, dipaksa bangkit, dan kemudian mengukir jalannya sendiri dengan darah.
Kita diseret masuk dalam dunia yang tidak asing. Ruska Roma, lorong gelap Continental, dan moralitas dunia bawah yang didefinisikan oleh perjanjian kuno dan etika kekerasan.
Di tengah estetika noir-neo-ballet yang khas, ada yang terasa baru. Semacam kesadaran bahwa kekerasan, jika diulang terus menerus, akan menjadi tarian itu sendiri. Dan tarian ini diarahkan dengan penuh gaya.
Koreografi pertarungannya adalah bahasa tubuh yang disusun seperti haiku maut. Satu gerakan, satu tembakan, satu ayunan katana, satu langkah ke keabadian.
Sungguh, jika kekerasan bisa bermeditasi, maka Ballerina adalah tempatnya. Koreografi aksinya adalah puisi tubuh: penggunaan lebih dari dua puluh jenis senjata, dari pisau lipat hingga senjata pelontar api, dari pistol kecil hingga remote TV.
Bukan hanya variasi alat yang menonjol. Cara Eve menyuarakan trauma dan tekad dengan setiap gerakan, memaksa kita melihatnya sebagai tokoh, sebagai bahasa. Ana bertarung dan menciptakan puisi kinetik yang memukau dan mengguncang sekaligus.
Dan dalam satu segmen tak terlupakan, bahasa itu mencapai klimaksnya.
Eve tersesat, atau mungkin memang ditarik takdir, ke sebuah kampung sunyi bersalju. Di sana, rumah-rumah kayu tampak damai seperti lukisan.
Tapi yang bersemayam di balik jendela adalah para pembunuh, murid-murid dari sebuah sekte lama yang menyembah kekerasan sebagai cara mencapai pencerahan.
Saat Eve menyadari bahwa setiap penduduk desa adalah algojo yang menanti aba-aba, kampung itu berubah jadi labirin kematian.
Apa yang terjadi setelahnya adalah simfoni pengepungan, seperti The Raid (2011) versi salju dan lirih. Jika The Raid membangun ketegangan dari lantai ke lantai dalam gedung yang penuh napas tercekik, maka Ballerina menciptakan puisi pengepungan dengan langkah di atas salju, ledakan dalam keheningan, dan tubuh-tubuh rebah seperti notasi beku.
Ini bukan inovasi, memang, tetapi tepatnya: reinterpretasi dengan kecantikan khas dunia Wick.
Gabriel Byrne sebagai Father Constantine segera mengingatkan kita kepada mendiang Ray ‘Tama Riyadi’ Sahetapi di The Raid, pemimpin spiritual sekaligus penentu takdir di balik komunitas yang mematikan, membawa tragedi dalam setiap sorot matanya, atau ke dalam kalimat dingin yang nyaris sama: “Teman-teman, kita kedatangan tamu…”
Dan seperti Drive (2011), Ballerina berjalan dalam ritme yang tenang, meski detaknya keras. Ana de Armas adalah jawaban sunyi dari Ryan Gosling.
Keduanya nyaris tak berbicara, hanya sorot mata mereka menyimpan dunia yang tak bisa diselamatkan. Jika Drive membingkai sunyi dalam cahaya neon, maka Ballerina memahatnya dalam kepingan es, asap mesiu, dan darah yang mengepul hangat di lanskap putih.
Kelemahan film ini adalah naskahnya yang seperti menanggung beban warisan. Premis balas dendam yang nyaris generik membuat lapisan emosionalnya tampak ringkih, nyaris seperti bayangan di balik layar pertarungan.
Kita tahu motifnya, kita pahami lukanya, tapi kita tak sempat tenggelam di dalamnya, karena ledakan-ledakan itu lebih cepat dari rasa duka yang ingin disampaikan.
Barangkali memang begitu niat film ini: membiarkan kekosongan emosional itu menjadi ruang gema. Di balik dentuman senjata, ada hening yang tak pernah selesai.
Ballerina tidak ingin menjadi narasi psikologis. Boleh jadi liturgi dari kekerasan estetis. Jika John Wick adalah dogma, Ballerina adalah syair yang dinyanyikan dengan darah di lantai dansa.
Pada akhirnya, film ini adalah surat cinta kepada tubuh yang berani, kepada gerak yang penuh niat, dan kepada dunia sinema aksi yang masih bisa menyulap pembunuhan menjadi bentuk seni.
Ballerina memperluas semesta Wick. Ia menambahkan bahasa baru yang lebih tipis, lebih lentur, lebih feminin, tapi tetap fatal.
Tak semua balerina mengenakan rok tutu. Beberapa menari dengan luka terbuka dan jari yang menempel pada pelatuk. Dan Eve Macarro adalah prima ballerina-nya. (ramon damora)






