Program Makan Bergizi Gratis Dimulai, Ahli Gizi Minta Evaluasi Menu dan Kualitas Gizi

Program Makan Bergizi Gratis Dimulai, Ahli Gizi Minta Evaluasi Menu dan Kualitas Gizi
Ahli Gizi meminta evaluasi menu Program Makan Bergizi Gratis (ilustrasi)

BATAM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai pada Senin (6/1) lalu di 26 provinsi Indonesia, bertujuan memberikan makanan bergizi kepada masyarakat dengan anggaran Rp 10.000 per porsi per hari.
Masyarakat pun ramai membagikan foto menu MBG di berbagai daerah, yang mencakup sayur-mayur, lauk-pauk, hingga nasi.

Namun, beberapa pihak, termasuk dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair), Lailatul Muniroh SKM MKes, menyampaikan tanggapan terkait menu yang disajikan.

Lailatul menilai bahwa beberapa menu MBG masih belum memenuhi pedoman Isi Piringku yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Contoh menu MBG di Sidoarjo yang saya terima belum memenuhi Isi Piringku. Tidak ada sayuran, lauk dengan protein hewani yang terlalu sedikit, serta kurangnya buah,” ujar Lailatul saat memberikan penilaian pada Senin (14/1).

BACA JUGA:  Pemko Batam Gunakan Anggaran BTT Rp70 Miliar untuk Program Makan Bergizi Gratis

Isi Piringku Belum Seimbang

Isi Piringku sendiri adalah pedoman yang mengajarkan konsumsi makanan sesuai dengan gizi seimbang. Setengah piring diisi dengan sayur dan buah, sementara setengah lainnya dengan makanan pokok dan lauk pauk.

Menurut Lailatul, prinsip makan bergizi adalah beragam, seimbang, aman, dan sesuai kebutuhan. Makanan bergizi yang baik harus mencakup karbohidrat, protein, lemak, serta memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, dan air.

Terkait ketidakhadiran susu dalam menu MBG, Lailatul juga memberikan pandangannya.

Ia setuju bahwa susu merupakan sumber kalsium yang penting, terutama dalam masa pertumbuhan anak. Namun, susu yang tidak tersedia bisa digantikan dengan sumber kalsium lain, seperti produk olahan susu seperti yogurt atau keju, tempe, sayuran hijau, ikan teri, sarden, telur, dan daging ayam.

BACA JUGA:  Telkom Raih Pertumbuhan Pendapatan Positif Rp112,2 T, Didorong Transformasi Bisnis Digital

Meskipun demikian, Lailatul mengingatkan pentingnya memastikan alternatif pengganti susu tetap bergizi seimbang dan diterima oleh siswa.

“Hal ini penting agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi meskipun tanpa susu,” tambahnya seperti dilansir kumparan, Rabu (15/1/2025).

Program MBG memang bisa menjadi langkah kecil menuju kesejahteraan masyarakat. Namun, Lailatul menekankan pentingnya evaluasi dan perbaikan program secara berkala.

Evaluasi dapat dilakukan dari berbagai aspek, mulai dari input dan proses, output, dampak, hingga keberlanjutan program.

Aspek yang perlu dievaluasi termasuk kualitas makanan, kepuasan penerima, dan penerimaan siswa terhadap variasi makanan.

Selain itu, Lailatul juga mengingatkan pentingnya menganalisis plate waste (makanan yang tidak dimakan) serta mengukur dampak program terhadap status gizi anak, prestasi akademik, kesehatan, dan kesadaran gizi mereka.

BACA JUGA:  Menteri Abdul Mu'ti Tak Ingin Terburu-buru Tentukan Nasib Kurikulum Merdeka

Evaluasi yang menyeluruh akan memastikan bahwa program MBG benar-benar memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat. (r)