Rupiah Melemah ke Level Terendah Sejak Agustus 2024, IHSG Juga Ambruk

Rupiah Melemah ke Level Terendah Sejak Agustus 2024, IHSG Juga Ambruk
Rupiah kembali melemah, terendah sejak Agustus 2024 (ilustrasi)

BATAM – Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Senin (16/12/2024). Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah tercatat melemah sebesar 0,18% ke level Rp16.018/US$, menjadikannya sebagai level terlemah sejak Agustus 2024.

Pelemahan rupiah ini turut berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga terjun lebih dari 1% pada sesi pertama perdagangan hari ini.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,16% di angka 106,83, lebih rendah dibandingkan dengan posisi kemarin yang tercatat di angka 107.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan bahwa depresiasi mata uang terhadap dolar AS terjadi di seluruh dunia. Meski demikian, ia menekankan bahwa kinerja rupiah masih lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara lain.

BACA JUGA:  Budak Pinang Siap Berseteru di Pilgub Kepri 2024

“Memang seluruh negara mengalami depresiasi, tapi depresiasi rupiah termasuk yang kecil,” ungkap Perry seperti dikutip cnbcidnonesia, Senin (16/12/2024).

Perry juga menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi setelah kemenangan Donald Trump dalam Pemilu AS dan meningkatnya defisit fiskal AS yang mencapai 7,7%.

Defisit ini menyebabkan AS berpotensi mengeluarkan surat utang lebih banyak, memicu terjadinya capital reversal ke AS.

“Karena utangnya sangat besar dan suku bunga yang sangat tinggi, makanya dolarnya sekarang sedang super strong,” tambah Perry.

Ia juga mencatat bahwa dolar yang sebelumnya berada pada angka 101 kini telah mencapai level 107.

BACA JUGA:  Ekspor Pasir Laut Kembali Dibuka, Nelayan Kepri Peringatkan Konflik Sosial dan Lingkungan

Selain itu, Perry memperingatkan bahwa inflasi AS diperkirakan akan kembali meningkat. Federal Reserve kemungkinan hanya memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada 2025. Angka ini lebih sedikit dari yang diperkirakan pasar sebelumnya, yakni empat kali.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury meningkat tajam turut memperkuat posisi dolar AS. Ini membuat investor global semakin tertarik untuk berinvestasi di pasar AS, yang semakin menarik karena suku bunga tinggi dan dolar yang kuat. (r)