Perjuangan Tenaga Medis di Pulau Terpencil Batam: Melawan Gelombang Laut Demi Keselamatan Pasien

Perjuangan Tenaga Medis di Pulau Terpencil Batam: Melawan Gelombang Laut Demi Keselamatan Pasien
Bagi tenaga medis di pulau terpencil Batam, perlu perjuangan untuk membawa pasien dalam kondisi darurat (ilustrasi)

BATAM – Banyak kisah menarik di kawasan pulau terpencil di Batam, Kepri. Salah satunya, kisah tenaga medis. Mereka harus berjuang melawan gelombang laut untuk membawa pasien ke Batam, seperti kisah dokter Rahmah yang ditulis Tempo, Senin (4/11/2024).

Suatu malam di Pulau Pecong, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, Rahmah Nurlidaya, seorang dokter keluarga, terbangun ketika seorang warga memanggilnya untuk membantu pasien yang kritis akibat gula darah tinggi.

Tanpa ragu, Rahmah bergegas menuju rumah tetangganya untuk memberikan pertolongan pertama. Namun, karena kondisi pasien semakin memburuk, ia memutuskan untuk merujuknya ke rumah sakit di Kota Batam.

BACA JUGA:  Sektor Pariwisata Sumbang 24 Persen PAD Batam, Target Wisman 1,5 Juta Orang di 2024

“Kami berangkat tengah malam menggunakan perahu kecil. Waktu itu sekitar pukul 12 malam,” cerita Rahmah mengingat peristiwa yang terjadi pada tahun 2012.

Menyebrangi lautan selama hampir dua jam, Rahmah terus memantau kondisi pasien meskipun harus melawan ombak yang menghantam kapal kayu kecil yang mereka tumpangi. Di tengah perjalanan, kapal sempat menghantam tunggul nelayan, nyaris terbalik.

Pulau Pecong dan wilayah kepulauan di sekitar Batam, termasuk Belakang Padang, memang memiliki tantangan tersendiri dalam hal pelayanan kesehatan.

Rahmah, yang pernah bertugas menggunakan senter kala membantu persalinan karena keterbatasan listrik, mengaku pengabdian ini adalah panggilan hati.

BACA JUGA:  Muhammad Kavi Ansyari Calon Tunggal Ketua PWI Batam 2025-2028
Perjuangan Tenaga Medis di Pulau Terpencil Batam: Melawan Gelombang Laut Demi Keselamatan Pasien
Dokter Rahmah harus berjuang melawan gelombang untuk menyelamatkan pasien dari Pulau Pecong, Belakang Padang (foto tempo)

“Sampai sekarang, tidak ada rencana pindah ke kota. Saya sudah nyaman di sini,” kata Rahmah yang merupakan alumni Universitas Yarsi Jakarta dan telah mengabdi sejak 2011.

Kini, fasilitas kesehatan di Belakang Padang sudah mengalami peningkatan. Kepala Tata Usaha Puskesmas Belakang Padang, Aisyah, menyampaikan bahwa perkembangan fasilitas seperti ambulans laut, USG, serta tenaga medis tambahan telah memudahkan masyarakat pulau. Layanan BPJS yang tersedia juga turut meringankan beban warga.

Angka stunting dan kematian ibu melahirkan di Belakang Padang menunjukkan penurunan signifikan. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan semakin meningkat berkat upaya sosialisasi yang terus dilakukan oleh tenaga medis.

BACA JUGA:  PWI Kepri Beri Dukungan Pertama, Zulmansyah Layak Lanjut Pimpin PWI

“Kami selalu berjuang, menembus ombak dan menghadapi risiko demi pasien. Harapan kami adalah agar tenaga medis di pulau ini bisa terus bertambah dan mendapat dukungan yang lebih baik lagi,” tutup Aisyah. (ris)

Sumber: tempo