Di Balik Roda-roda Trans Batam: Langkah Sederhana Pak Wali Menuju Kota yang Lebih Manusiawi

Di bawah langit cerah Batam, Selasa (30/4/2025), suasana di jalan utama depan Gedung Pemko Batam, Dataran Engku Puteri, terasa sedikit berbeda dari biasanya.

ADA barisan bus berwarna biru metalik yang berkilau terkena cahaya matahari, siap mengaspal menyusuri ruas-ruas kota.

Di antara keramaian pejabat dan awak media, sosok Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, terlihat melangkah pelan — tanpa pengawalan berlebihan, tanpa seremonial mewah.

Ia mendekati salah satu bus, merenjis tepung tawar sebagai prosesi adat, lalu naik ke dalam bus dan berdiri bergelantungan layaknya penumpang biasa.

Momen uji coba nan sederhana ini menyimpan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar peluncuran kendaraan baru.

Amsakar bukan tipe pemimpin yang suka tampil megah di depan kamera. Bahkan saat meresmikan 13 unit bus Trans Batam terbaru, ia lebih memilih menjadi penumpang pertama daripada pembicara utama.

Berdiri, lalu duduk, di kursi bus yang masih wangi pabrik, Amsakar Achmad tampak larut dalam kehangatan suasana uji coba bus Trans Batam.    

Sesekali ia tenggelam dalam keheningan singkat, seolah membayangkan ribuan warga Batam yang kelak duduk di tempat yang sama, menuju sekolah, pasar, atau tempat kerja.

Dalam sambutannya yang singkat namun penuh makna, Amsakar mengatakan, transportasi publik adalah kunci.

“Ketika warga memilih bus, kota ini akan tumbuh lebih tertib, nyaman, dan manusiawi,” ujar dia.

Kata-kata itu tak sekadar slogan. Sejak awal masa jabatannya, Amsakar telah menjadikan perbaikan transportasi publik sebagai salah satu dari 15 program prioritasnya. Dan hari ini, kesungguhan itu terlihat nyata.

BACA JUGA:  Wagub Kepri Hadiri Sertijab Walikota dan Wakil Walikota Batam

Moda Transportasi Modern, Pelayanan Merata

Bus-bus baru yang diluncurkan bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol harapan baru. Armada ini memiliki desain modern dengan bodi ramping berwarna biru dan putih, dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang disematkan di dalam kabin.

Teknologi ini mampu mendeteksi perilaku pengemudi seperti bermain ponsel, merokok, hingga mengantuk, tanpa perlu diawasi langsung oleh petugas.

Sistem akan memberikan peringatan atau laporan otomatis, sehingga meningkatkan keselamatan selama perjalanan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Batam, Salim, mengatakan bus modern ini sudah dilengkapi kamera AI yang bisa mendeteksi aktivitas pengemudi yang berpotensi membahayakan.

“Ini langkah penting mengurangi risiko kecelakaan,” katanya.

Salim menambahkan, selain fitur keselamatan berbasis AI, bus baru juga dilengkapi tombol stop request, layar hiburan dalam kabin, serta desain interior yang lebih ergonomis dan bersih.

Dari sisi operasional, moda ini beroperasi dengan skema Buy The Service (BTS)—di mana pemerintah membayar operator berdasarkan jarak tempuh, bukan jumlah penumpang.

Skema ini memastikan layanan tetap berjalan bahkan di rute-rute yang belum ramai pengguna.

Dengan hadirnya 13 unit baru ini, Trans Batam kini menjangkau kawasan yang selama ini terpinggirkan dari layanan transportasi umum, seperti Punggur serta jalur Sekupang–Marina–Sagulung.

Aksesibilitas yang merata bukan lagi mimpi, tapi kenyataan yang sedang dibangun sedikit demi sedikit.

BACA JUGA:  BMKG Hang Nadim Batam Keluarkan Peringatan Dini Banjir Rob: Ini Wilayah yang Bakal Terdampak

Transportasi yang Menghargai Waktu dan Martabat Warga

Bagi warga seperti Pak Sulaiman, seorang buruh pelabuhan di Punggur, kehadiran bus ini bukan lagi sekadar alat berpindah tempat.

“Selama ini saya harus tiga kali naik angkutan untuk sampai ke tempat kerja. Mahal dan melelahkan. Kalau bisa naik bus langsung, lebih hemat dan bisa istirahat di jalan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca saat melihat armada baru terparkir rapi berjejer di tepi lebuh raya.

Trans Batam telah melayani sekitar 5.000 penumpang setiap hari dalam sistem Bus Rapid Transit (BRT), yang menjanjikan waktu tempuh lebih singkat dan lebih pasti.

Dengan total 9 koridor aktif, ditambah rencana penambahan 26 unit bus lagi tahun depan, harapan masyarakat akan transportasi publik yang cepat dan layak semakin dekat.

Amsakar tahu, tak ada perubahan besar yang bisa dilakukan sendirian. Dalam peluncuran ini, hadir pula perwakilan Kementerian Perhubungan yang menjadi mitra kunci dalam pengadaan armada lewat skema nasional.

Kolaborasi pusat dan daerah ini menjadi contoh bagaimana pelayanan publik seharusnya berjalan: saling dukung demi rakyat.

Saat bus bergerak pelan dalam uji coba, Amsakar memandang tenang di jendela, menatap keluar ke jalanan Batam yang sibuk.

Mungkin ia tengah membayangkan masa depan kota ini—di mana anak-anak berangkat sekolah dengan aman, pekerja pulang lebih cepat karena tak terjebak macet, dan kota tumbuh lebih sehat karena emisi kendaraan pribadi berkurang.

BACA JUGA:  Bawaslu Batam Mulai Proses Tiga Kasus Politik Uang di Pilkada Batam

Ya, hari ini bukan hanya tentang peluncuran armada, tetapi tentang perjalanan panjang menuju Batam yang lebih adil, tertib, dan ramah bagi semua.

Di balik mesin-mesin bertenaga dan desain canggih bus — konon bakal dipermolek dengan motif Batik Gonggong khas Batam — terselip nilai kemanusiaan: bahwa transportasi bukan hak istimewa, tapi hak setiap warga.

Dan Amsakar Achmad, dengan langkah sederhananya menaiki bus, telah menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil.

Dari Skema ke Realita: Wujud Program Prioritas

Peluncuran ini adalah satu dari 15 program prioritas yang digagas Amsakar dan wakilnya, Li Claudia Chandra.

Hanya dua bulan setelah dilantik, Amsakar menunjukkan bahwa komitmen tak harus ditunggu sampai akhir masa jabatan —karena yang dibutuhkan masyarakat adalah dampak, bukan janji.

“Ini bukan hanya soal transportasi. Ini tentang rasa keadilan, tentang memberi pilihan pada warga untuk bergerak dengan martabat,” bilang Amsakar lagi.

Tak berhenti di sini, Pemerintah Kota Batam telah mengajukan usulan tambahan 26 unit bus baru untuk 2026.

Harapannya, waktu tunggu bisa dipangkas, dan jangkauan Trans Batam dapat meluas ke titik-titik yang belum tersentuh.

Setiap kilometer jalan yang dilalui bus ini bukan hanya jalur transportasi—melainkan urat nadi yang menghubungkan kehidupan, ekonomi, dan harapan. Shabas, Pak Wali… (ramon damora)