BATAM — Selama dua periode memimpin Batam sebagai Walikota dan Ex-Officio Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Muhammad Rudi mengungkapkan bahwa ia tidak menghadapi masalah besar kecuali satu hal.
Tantangan terbesar yang dihadapi Rudi selama masa jabatannya adalah pembangunan Rempang Eco City, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menjadi pusat perhatian.
Menurut Rudi, meskipun pembangunan Rempang sebenarnya tidak terlalu berat, masalahnya justru muncul karena berbagai kepentingan yang terlibat.
“Semua yang berat berjalan dengan baik, ada yang berat banget itu pulau Rempang. Bukan berat, tapi diberat-beratkan, karena punya kepentingan lain,” ujar Rudi usai memimpin Upacara Hari Jadi Batam pada Rabu (18/12/2024).
Pembangunan Rempang Eco City, yang mencakup relokasi warga terdampak proyek, memang mengalami kesulitan. Banyak warga lokal menolak untuk direlokasi demi pembangunan tersebut, meskipun proyek ini bertujuan untuk mendukung kepentingan nasional.
Sebagai Ex-Officio Kepala BP Batam, Rudi berperan dalam menawarkan solusi, yakni hunian baru berukuran 500 meter persegi bersertifikat hak milik di Tanjung Banon dengan berbagai insentif bagi warga yang terkena dampak. Secara perlahan, solusi ini mulai diterima oleh sebagian warga yang mendukung pembangunan PSN tersebut.
Dalam kesempatan tersebut, Rudi juga berpesan kepada pemimpin Batam berikutnya agar dapat lebih kolaboratif dalam menyelesaikan masalah ini.
“Kita berharap kedepan pemimpinnya harus kolaborasi bersama, kepentingan nasional, kepentingan rakyat secara utuh harus selesai. Kalau itu bisa kita dudukkan saya rasa semua bisa selesai,” tambahnya. (r)






