BATAM – Setelah perdebatan panjang, Kepala BP Batam, Muhammad Rudi, akhirnya memutuskan untuk mengembalikan nama flyover yang baru diresmikan pada 31 Desember 2024 ke nama semula, yakni Flyover Sungai Ladi.
Keputusan ini diambil setelah adanya polemik terkait penamaan flyover tersebut, yang sempat memicu kontroversi di kalangan masyarakat Batam.
Flyover yang memiliki panjang 120 meter dan lebar 10,5 meter ini, kini secara resmi akan dikenal dengan nama “Flyover Sungai Ladi” ke depannya.
Dalam keterangan yang disampaikan, Rudi mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai masukan dan saran dari tokoh-tokoh masyarakat serta tetua setempat.
“Pertama-tama, saya memohon maaf atas apa yang telah terjadi. Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat Batam yang telah mendukung pembangunan Flyover Sungai Ladi,” ujar Rudi.
Meskipun ada pro dan kontra terkait penamaan flyover ini, Rudi menegaskan bahwa Flyover Sungai Ladi tetap akan menjadi simbol identitas Batam.
Ia juga berharap kehadiran flyover ini akan memberikan manfaat signifikan terhadap mobilitas masyarakat dan membantu mengurangi kemacetan di kota Batam. Serta mendukung infrastruktur untuk menarik investasi.
“Kami berharap keputusan ini dapat diterima oleh semua pihak guna menjaga situasi kondusif Batam yang kita cintai,” tutup Rudi.
Polemik mengenai penamaan flyover ini dimulai setelah BP Batam memberi nama Flyover Laksamana Ladi. Nama ini merujuk pada seorang tokoh penguasa lautan Melayu.
Namun, nama tersebut ternyata tidak tercatat dalam dokumen sejarah maupun cerita rakyat yang dikenal masyarakat Batam, yang akhirnya menimbulkan kontroversi. (r)






