BATAM – Pemerintah tengah merencanakan pembangunan Light Rail Transit (LRT) gantung di Batam untuk mempermudah mobilitas masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM).
Dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam dan kecepatan maksimum mencapai 90 kilometer per jam, LRT ini diharapkan menjadi solusi modern untuk mengatasi kemacetan dan polusi udara di kota ini.
Menggunakan sistem articulated bogie, LRT gantung mampu melaju dengan aman dan luwes, bahkan di tikungan tajam. Waktu tempuh antar stasiun diperkirakan sekitar 1-2,5 menit, dengan interval keberangkatan setiap 10 menit.
Bila terealisasi, proyek ini akan mengukuhkan Batam sebagai kota modern yang berorientasi pada efisiensi dan keberlanjutan transportasi.
Proyek ini direncanakan mulai konstruksi pada 2025, bekerja sama dengan investor asal China dan Singapura.
Fase pertama pembangunan mencakup jalur sepanjang 11 kilometer. Menghubungkan dua fasilitas strategis di Batam, yakni Bandara Hang Nadim dan Terminal Ferry Internasional Batam Center.
Fase berikutnya akan memperluas konektivitas ke wilayah Batu Ampar dan Rempang.
Total investasi proyek ini mencapai Rp1,7 triliun dengan masa konsesi 35 tahun. Dengan sistem rel gantung yang hemat ruang dan mampu mengatasi tantangan geografis Batam. Transportasi umum ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi kota.
“Batam akan menjadi kota modern dengan LRT gantung. Menciptakan solusi transportasi tanpa polusi dan mengintegrasikan fasilitas strategis,” ujar Kepala BP Batam, Muhammad Rudi beberapa waktu lalu.
Pembangunan LRT gantung ini masih dalam tahap kajian untuk merancang anggaran dan tahapan pengerjaan. Namun, jika terealisasi, proyek ini akan menjadi tonggak sejarah bagi Batam dalam mewujudkan kota modern di Indonesia yang setara dengan Singapura.






