Batam  

Imlek Tanpa Ikan Dingkis: Teror Buaya Pengaruhi Tangkapan Nelayan Batam

Imlek Tanpa Ikan Dingkis: Teror Buaya Pengaruhi Tangkapan Nelayan Batam
Buaya lepas di perairan Batam, membuat nelayan takut melaut dan tangkapan Ikan DIngkis ikut berkurang (ilustrasi)

BATAM – Ada yang berbeda dengan perayaan Imlek tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Ikan Dingkis, makanan khas masyarakat Tionghoa di Batam, Singapura, dan Malaysia, yang menjadi sajian istimewa saat Imlek, mengalami penurunan ketersediaan.

Haji Salam, seorang nelayan asal Belakang Padang, menuturkan bahwa hasil tangkapan ikan Dingkis tahun ini jauh berkurang.

“Tangkapan Dingkis saat ini turun drastis dibandingkan tahun lalu,” ujarnya saat meninjau alat tangkap miliknya di Pulau Pocong, Belakang Padang.

Salah satu penyebab utamanya adalah teror buaya yang meresahkan nelayan. Buaya-buaya yang diduga lepas dari penangkaran di perairan Pulau Bulan, Kecamatan Bulang, membuat sebagian nelayan enggan melaut karena takut.

BACA JUGA:  Erlita Amsakar: Kader PKK Adalah Penjaga Ketahanan Keluarga

“Kemarin buaya yang lepas sudah masuk ke Pulau Gerenting, Belakang Padang,” tambahnya seperti dikutip liputan6, Selasa (28/1/2025).

Bahkan, sebelumnya dilaporkan ada nelayan yang diterkam buaya di Pulau Jaloh.

Haji Salam, yang memiliki 17 alat tangkap khusus, mengungkapkan bahwa ikan Dingkis memiliki nilai ekonomi tinggi selama Imlek.

“Kalau hari biasa, ikan Dingkis harganya Rp35 ribu per kilogram. Tapi saat Imlek, bisa mencapai Rp300 ribuan per kilogram atau sekitar 27-30 dolar Singapura,” jelasnya.

Ikan Dingkis menjadi sajian istimewa saat Imlek karena memiliki telur dan dianggap membawa keberuntungan. “Masyarakat Tionghoa percaya, memakan ikan Dingkis yang bertelur saat Imlek bisa mendatangkan hoki,” tutur Haji Salam. Namun, tahun ini tangkapan jauh dari harapan. Biasanya, dua hari sebelum Imlek, nelayan bisa mendapatkan hingga 60 kilogram ikan Dingkis per alat tangkap.

BACA JUGA:  Bundaran Punggur Resmi Berganti Nama Menjadi Bundaran Raja Hamidah, Simbol Sejarah Batam

Potensi Ekonomi yang Besar Saat Imlek

Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengakui bahwa ikan Dingkis merupakan komoditas ekspor unggulan nelayan Batam selama Imlek. “Permintaan ikan Dingkis dari Singapura dan Malaysia sangat tinggi, belum lagi kebutuhan lokal,” katanya.

Menurut Yudi, pada 2024 lalu, ekspor ikan Dingkis ke Malaysia dan Singapura mencapai 1,1 juta ton dengan nilai sekitar Rp17,2 miliar. “Potensi terbesarnya memang ada di momen Imlek, dengan harga yang variatif,” ujarnya.

Namun, teror buaya yang terjadi saat ini sangat memengaruhi tangkapan para nelayan. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah untuk memastikan keamanan nelayan saat melaut, agar potensi besar dari komoditas ikan Dingkis ini tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.

BACA JUGA:  Dana Awal Kampanye Pilkada Batam 2024,NADI Rp 100 juta, ASLI Rp 1 juta