BATAM – Tidak terbukti kampanye, Bawaslu Kota Batam secara resmi menghentikan penyelidikan kasus Pesta Budaya Bangso Batak yang digelar di Alun-Alun Engku Putri, Batam, pada Minggu, 3 November 2024. Keputusan ini diambil setelah dilakukan investigasi menyeluruh terhadap bukti dan keterangan saksi.
Ketua Bawaslu Batam, Antonius Itoloha Gaho, dalam konferensi pers pada Rabu (20/11/2024), menegaskan bahwa acara tersebut murni bersifat kebudayaan dan tidak ditemukan unsur kampanye terselubung.
“Laporan 08 dan 09 dihentikan karena tidak terbukti memenuhi unsur pelanggaran tindak pidana Pemilihan,” ujar Antonius.
Ditujukan kepada Dua Pasangan Calon
Laporan 08 ditujukan kepada pasangan Ansar Ahmad dan Nyanyang Harris Pratamura, sedangkan laporan 09 menyasar pasangan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra. Kedua laporan tersebut menuduh adanya kampanye terselubung dalam kegiatan budaya tersebut.
Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi dan analisis bukti, Bawaslu memastikan bahwa acara yang diinisiasi oleh Bangso Batak Marsada (BBM) ini tidak mengandung aktivitas politik.
“Setelah melalui proses yang komprehensif, kami tidak menemukan pelanggaran kampanye dalam acara tersebut. Acara ini sepenuhnya bertujuan melestarikan budaya,” jelas Antonius.
Pesta Budaya Bangso Batak: Meriah Tanpa Pelanggaran
Pesta Budaya Bangso Batak berlangsung meriah, dimeriahkan oleh penampilan musisi ternama Judika, yang menarik perhatian ribuan warga. Meskipun begitu, acara tersebut sempat menuai kontroversi karena penggunaan fasilitas pemerintah dan kehadiran beberapa pasangan calon gubernur dan wali kota.
Spekulasi adanya kampanye terselubung akhirnya ditepis oleh hasil investigasi Bawaslu.
“Kami sudah umumkan penghentian penyelidikan ini di papan pengumuman resmi Bawaslu,” tambah Antonius.
Keputusan Final
Dengan keputusan ini, Bawaslu Kota Batam secara resmi menutup kasus dugaan pelanggaran kampanye terkait Pesta Budaya Bangso Batak. Keputusan ini diharapkan dapat meredakan spekulasi yang sempat berkembang di masyarakat.
“Semoga masyarakat dapat memahami bahwa acara ini murni bertujuan melestarikan kebudayaan, tanpa ada muatan politik,” tutup Antonius. (r)






