Pulau Pemping Kepri Dipilih untuk Kilang Minyak Baru Senilai Rp205 Triliun

Pulau Pemping Kepri Dipilih untuk Kilang Minyak Baru Senilai Rp205 Triliun
Kilang yang akan dibangun di Pulau Pemping ini dijanjikan akan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 500.000 barel per hari (ilustrasi)

BATAM – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengungkapkan bahwa pembangunan kilang minyak baru berkapasitas 500.000 barel per hari akan dilakukan di Pulau Pemping, Kepulauan Riau (Kepri).

Hal ini sekaligus membantah kabar yang beredar mengenai pembangunan kilang dengan nilai investasi sebesar US$12,5 miliar atau setara Rp205,54 triliun yang sebelumnya dikabarkan akan dibangun di Pulau Nipa.

“Kilang baru ini akan dibangun di Pemping, dekat Batam,” ujar Yuliot di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (6/3/2025).

Sementara itu, ia menambahkan bahwa Pulau Nipa akan digunakan untuk fasilitas penyimpanan minyak berkapasitas 1 juta barel per hari yang berfungsi sebagai cadangan penyangga energi (CPE), sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 96 tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi.

BACA JUGA:  Forbes Update: 10 Orang Terkaya di Indonesia Per 29 November 2024

Yuliot menjelaskan bahwa Pulau Pemping dan Pulau Nipa berada dalam kawasan yang berdekatan dan saling melengkapi.

“Itu kan lokasinya berdekatan. Jadi ini merupakan bagian dari satu ekosistem yang menjadi kesatuan dalam pengolahan minyak,” tuturnya seperti dilansir bisnis.

Proyek pembangunan kilang ini menjadi bagian dari 21 proyek hilirisasi yang didorong pemerintah, dengan potensi pendanaan dari BPI Danantara.

Kilang yang akan dibangun di Pulau Pemping ini dijanjikan akan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 500.000 barel per hari. Kilang ini mampu mengolah minyak mentah dari dalam negeri maupun impor. Serta memproduksi berbagai produk minyak bumi, termasuk BBM, hingga 531.500 barel per hari.

BACA JUGA:  Harga Santan Kelapa Murni dan Kemasan Melonjak di Batam Menjelang Lebaran

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menambahkan bahwa kilang ini akan memperkuat ketahanan energi Indonesia, mengurangi ketergantungan pada impor. Serta menghemat hingga 182,5 juta barel minyak per tahun, yang setara dengan US$16,7 miliar.

Selain itu, proyek ini diprediksi membuka peluang besar dalam penciptaan lapangan kerja. Perkiraan dengan 63.000 tenaga kerja langsung dan 315.000 tenaga kerja tidak langsung. (r)