BATAM — Rapat Koordinasi (Rakor) Ormas dan Lembaga Islam se-Kota Batam digelar di Aula Engku Hamidah, Lantai IV Kantor Wali Kota Batam, Kamis (29/5).
Kegiatan ini menjadi momentum strategis memperkuat sinergi umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun peradaban Islam yang berdaya dan bermartabat.
Kegiatan ini dihadiri puluhan pimpinan ormas dan lembaga Islam di Batam, termasuk Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Batam yang dipimpin langsung oleh Ketua BWI Batam, H Buralimar.
Dalam catatannya, Buralimar menekankan pentingnya membangun kekuatan kolektif umat melalui kerja sama lintas lembaga dan penguatan narasi keummatan yang inklusif.
“Batam memiliki potensi besar dengan jumlah umat Islam sekitar 900 ribu jiwa. Tapi tanpa sinergi, potensi itu tidak akan berbuah kekuatan nyata,” ujar Buralimar.
Ia menyoroti selama ini ormas dan lembaga Islam berjalan sendiri-sendiri, tanpa arah gerakan bersama yang menyatukan visi dan misi umat.
Rakor ini, menurutnya, menjadi ruang reflektif dan akseleratif untuk menata ulang langkah kolektif umat, terutama dalam sektor dakwah, pendidikan, dan ekonomi.
Salah satu agenda penting dalam Rakor adalah seruan membangun aksi nyata yang menjawab persoalan riil masyarakat—mulai dari pengangguran, akses pendidikan, hingga kesenjangan antara wilayah daratan dan kepulauan. Dalam hal ini, kerja sama lintas lembaga menjadi keharusan, bukan lagi pilihan.
Selain itu, forum juga menggarisbawahi pentingnya redefinisi makna donasi dalam gerakan umat. Donasi tidak terbatas pada aspek finansial, melainkan juga mencakup gagasan, keahlian, metode dakwah, dan kreativitas ekonomi.
Buralimar menyebut koperasi syariah, yayasan profesional, dan unit usaha produktif sebagai model yang bisa diperkuat ke depannya.
Dalam sesi strategis, Buralimar juga mengingatkan soal bahaya hegemoni pemikiran dari luar yang menyusup melalui tiga sektor kunci: pendidikan, kesehatan, dan media.
Ia mencontohkan bagaimana kekuatan global membentuk cara berpikir umat melalui sekolah, rumah sakit, dan media sosial. Karena itu, ia menyerukan pentingnya membangun media Islam yang profesional dan mencerahkan sebagai alat dakwah dan literasi keummatan.
“Media sosial seperti TikTok dan Instagram harus diubah dari ruang hiburan menjadi ruang dakwah kreatif,” tambah Bur.
Sebagai langkah konkret, Rakor merekomendasikan pembentukan lembaga induk yang menaungi seluruh ormas dan lembaga Islam di Batam.
Lembaga ini akan merancang peta jalan gerakan umat, lengkap dengan visi jangka panjang, strategi implementasi, dan program aksi yang terukur.
Di akhir Rakor, peserta sepakat membentuk tim kerja kecil untuk menyusun dokumen peta jalan tersebut. Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan dinamis bagi kerja kolektif umat di Batam—dari masjid ke masjid, dari pulau ke pulau.
Rakor ini di mata Buralimar bukan sekadar forum seremonial, melainkan tonggak awal kebangkitan umat Islam Batam yang digerakkan oleh kesadaran kolektif, bukan sekadar tokoh karismatik.
Semangat ini menjadi bekal untuk menjadikan Batam sebagai pusat gerakan Islam yang progresif dan solutif di perbatasan barat Indonesia. (ora)






