Hari Buruh dan Cewek SPG Miras di Batam yang Tak Pernah Dianggap Pekerja

Screenshot

Di bawah gemerlap lampu neon dan dentuman live music, mereka berdiri — tersenyum manis dengan balutan pakaian ketat dan riasan menor yang lebih menyerupai topeng daripada cermin diri.

MALAM di foodcourt kawasan Nagoya, Batam, selalu riuh. Tapi di balik sorotan lampu itu, mata-mata perempuan sales promotion girls, atau yang biasa disebut SPG miras ini, menyimpan kabut pilu yang sulit dijelaskan.

Mereka tak benar-benar memilih panggung ini, tapi mereka tetap harus tampil di dalamnya, memainkan peran sebagai pemikat tamu dan penjual minuman keras.

“Aku harus senyum terus, biar tamunya betah, biar mereka beli banyak botol,” ujar M, seorang SPG berusia 24 tahun yang sudah dua tahun bekerja di salah satu foodcourt terbesar di Batam.

Gajinya tak seberapa, apalagi bila tak mencapai target penjualan. Setiap malam, ia dipaksa menjadi bintang dalam pesta yang tak pernah sungguh-sungguh mengundangnya.

Kadang, demi mengejar target, ia harus menelan pil pahit menjual lebih dari sekadar minuman. “Kalau cuma jual botol, mana cukup. Kadang tamu minta temani minum, pegang-pegang, lebih… Tapi aku juga butuh makan.”

BACA JUGA:  PLN Batam Rayakan Hari Listrik Nasional, Amsakar: Energi Bersih Fondasi Masa Depan Batam

Setidaknya ada lebih dari 30 titik foodcourt di Batam yang secara terang-terangan menjual minuman keras tanpa pengawasan ketat.

Merek-merek dari luar negeri, sebagian bahkan tanpa cukai resmi, beredar bebas di meja-meja pelanggan. Penyelundupan miras ilegal lewat pelabuhan tikus di sekitar Batam diyakini masih marak.

Di satu sisi, perputaran uang dari bisnis ini sangat besar, mencapai puluhan miliar rupiah tiap bulannya. Namun ironisnya, kontribusi sektor ini ke Pendapatan Asli Daerah (PAD) kota Batam sangat minim—kurang dari 1% berdasarkan data yang tidak dipublikasikan secara terbuka oleh dinas terkait.

Siapa yang diuntungkan? Bukan para perempuan SPG yang menggigil saat pulang subuh dengan kantong nyaris kosong dan tubuh penuh lelah. Bukan pula masyarakat sekitar yang hanya menjadi penonton dari industri bayangan ini.

Informasi dari aktivis lokal dan pengusaha minuman menyebutkan, ada jaringan pengusaha dan oknum aparat yang bermain di belakangnya—mereka yang mengendalikan distribusi, memberikan “perlindungan”, bahkan memfasilitasi pasokan miras dari Singapura dan Malaysia melalui jalur ilegal.

BACA JUGA:  PT ASDP Indonesia Ferry Siap Ekspansi Rute Internasional Batam-Johor Bahru

Ketika Batam dikenal sebagai kota investasi dan pariwisata, sisi gelap ini jarang tersorot. Perempuan-perempuan SPG itu tetap tersenyum di meja tamu, berdiri di antara gelas-gelas kosong dan harapan yang makin redup.

Senyum mereka mungkin terlihat manis, tapi di baliknya ada luka yang belum sempat diobati, dan dunia yang terus berjalan seakan tak peduli.

Aktivis perempuan lokal, Siti Rahmawati, menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi ini. “Perempuan-perempuan ini adalah korban dari sistem yang tidak adil. Mereka dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi, tanpa perlindungan hukum yang memadai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah seharusnya lebih aktif dalam mengawasi dan menindak praktik-praktik eksploitasi semacam ini.

Hari Buruh

Tanggal 1 Mei selalu diperingati sebagai Hari Buruh Internasional, momen untuk merayakan dan memperjuangkan hak-hak pekerja. Di banyak kota, para buruh turun ke jalan, membawa spanduk dan harapan.

BACA JUGA:  DPRD Kepri Dukung Penganggaran Program Makanan Bergizi dalam APBD 2025

Tapi di sudut-sudut temaram foodcourt Batam, perempuan-perempuan SPG miras ini tetap berdiri dalam senyap. Mereka jarang disebut dalam pidato-pidato perjuangan.

Mereka bahkan kerap tidak dianggap sebagai “pekerja”, padahal tubuh dan waktu mereka diperas habis oleh target dan tekanan.

Tak ada serikat yang melindungi mereka, tak ada kontrak kerja yang adil, bahkan gaji bulanan pun kerap tidak sesuai dengan beban fisik dan psikologis yang mereka tanggung.

Seringkali mereka bekerja di bawah bayang-bayang eksploitasi, menjadi objek dari sistem ekonomi kelam yang berjalan di antara legalitas semu dan kekuasaan yang membutakan.

Mereka adalah buruh, meskipun tanpa helm proyek atau seragam pabrik. Mereka adalah bagian dari wajah buruh Indonesia yang tersembunyi, yang justru paling membutuhkan gema suara pada 1 Mei ini.

Suara yang bukan hanya menuntut keadilan upah, tapi juga keadilan hidup. Sebab buruh yang tak terlihat tak pernah benar-benar merdeka. (ora)