Jelajah Penyengat
Beranda » Dan Penyengat pun Menari dalam Koreografi Yudi…

Dan Penyengat pun Menari dalam Koreografi Yudi…

Seorang penari membawakan koreografi garapan Yudi Tankcer dalam perhelatan seni Gurindam 12 Purnama di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau, baru-baru ini. Berlatar bangunan bersejarah, pertunjukan ini menghadirkan dialog antara seni kontemporer dan warisan peradaban Melayu, menghidupkan kembali situs sejarah sebagai ruang ekspresi kebudayaan.

TANJUNGPINANG – Di tangan pemerintah, wajah Pulau Penyengat dibenahi. Di tangan seniman, sejarahnya kembali dipentaskan. Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan seniman Yudi Tankcer menempuh dua jalan berbeda untuk menjaga denyut peradaban Melayu agar tak berhenti sebagai kenangan.

Sejarah tidak selalu harus tinggal di dalam museum. Sejarah bisa keluar dari lemari kaca, meninggalkan halaman buku, lalu bergerak di atas panggung. Di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ikhtiar menghidupkan masa silam itu menemukan bentuknya melalui pertemuan antara pembangunan kawasan dan kreativitas seni pertunjukan.

Pulau kecil yang berjarak sekitar 15 menit penyeberangan dari Kota Tanjungpinang tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu. Di sana berdiri Masjid Raya Sultan Riau, kompleks makam para pembesar kerajaan, benteng-benteng tua, serta berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Riau-Lingga.

Namun, Pulau Penyengat bukan setakat kumpulan bangunan bersejarah. Ia menyimpan ingatan tentang bahasa, sastra, kekuasaan, dan tradisi intelektual Melayu yang pengaruhnya melampaui batas geografis pulau itu sendiri.

Kini, muncul ikhtiar untuk menghadirkan kembali kekayaan sejarah tersebut dalam kehidupan kebudayaan masa kini.

Batam Diuji Krisis Beruntun, Ini Seruan Ketum LAM Batam

Dua sosok bergerak melalui jalan yang berbeda. Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menempuh jalur kebijakan pembangunan dan revitalisasi kawasan. Sementara seniman sekaligus koreografer asal Tanjungpinang, Ruki Daryudi, yang lebih dikenal sebagai Yudi Tankcer, memilih jalan kesenian.

Ansar membenahi wajah fisik Penyengat. Yudi menghidupkan ruang-ruang sejarahnya melalui pertunjukan.

Keduanya tidak harus berada dalam satu kerja sama formal untuk memperlihatkan hubungan yang saling melengkapi. Sebab, sebuah kawasan bersejarah membutuhkan dua hal sekaligus, yakni bangunan yang terawat dan kebudayaan yang tetap bergerak.

Bangunan Perlu Jiwa

Di bawah kepemimpinan Ansar Ahmad, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mendorong revitalisasi kawasan Pulau Penyengat melalui berbagai pembenahan infrastruktur.

Telkom Percepat Buyback Saham Rp4 Triliun, Sisa Dana Lebih dari Rp3 Triliun

Penataan penerangan jalan dengan sentuhan arsitektur Melayu, perbaikan drainase, pembenahan fasilitas dasar, hingga penataan kompleks cagar budaya menjadi bagian dari upaya memperkuat daya tarik pulau tersebut.

Perhatian juga diarahkan pada kawasan Masjid Raya Sultan Riau, benteng-benteng bersejarah, serta pengembangan transportasi lokal yang ramah lingkungan.

Langkah tersebut ditujukan untuk menjadikan Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang lebih nyaman, sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

BACA JUGA:  50 Wartawan PWI Kepri Jelajahi Penyengat

Namun, pembangunan fisik memiliki batasnya sendiri.

Jalan dapat diperindah. Lampu-lampu dapat dinyalakan. Bangunan tua dapat dipugar. Tetapi bagaimana membuat sejarah yang tersimpan di balik dinding-dinding itu kembali berbicara kepada masyarakat?

Menguak Kisah Tujuh Perigi yang Diperdebatkan di Pulau Penyengat

Pertanyaan inilah yang dijawab melalui pendekatan berbeda oleh Yudi Tankcer.

“Bagi saya, situs sejarah bukan hanya bangunan tua yang kita datangi, lalu kita foto. Di sana ada cerita, ada ingatan, ada peradaban. Seni pertunjukan menjadi salah satu cara untuk membuat semuanya kembali berbicara,” ujar Yudi.

Bersama Tankcer Dance Studio, Yudi mengembangkan pertunjukan yang memanfaatkan situs-situs bersejarah sebagai ruang ekspresi artistik.

Melalui perhelatan seni Gurindam 12 Purnama yang ia gagas, misalnya, kawasan bersejarah Pulau Penyengat dihadirkan sebagai panggung terbuka. Pertunjukan tidak semata-mata dipindahkan dari gedung kesenian ke ruang luar, tetapi dirancang dengan mempertimbangkan karakter dan nilai sejarah tempat pementasannya.

Dalam dunia seni pertunjukan, pendekatan ini dikenal sebagai site-specific performance, yakni karya yang memiliki keterikatan dengan lokasi tempat ia dipentaskan.

Dengan demikian, bangunan tua tidak lagi sekadar menjadi latar dekoratif. Ia ikut membangun makna pertunjukan.

Karya-karya yang dikembangkan Yudi mengangkat beragam tema, mulai dari sejarah Melayu, cerita rakyat, tradisi maritim, hingga persoalan lingkungan.

Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak harus disampaikan dengan cara yang selalu sama.

Sejarah dapat hadir melalui gerak tubuh penari. Kisah masa lalu dapat diterjemahkan menjadi koreografi. Sementara nilai-nilai tradisi memperoleh ruang penafsiran baru melalui musik, tata cahaya, dan ekspresi artistik.

Pendekatan ini menjadi penting ketika warisan kebudayaan menghadapi tantangan regenerasi.

Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan digital tidak selalu memiliki hubungan yang dekat dengan situs sejarah atau karya sastra klasik. Karena itu, diperlukan cara-cara kreatif untuk mempertemukan mereka dengan kekayaan masa lalu.

“Anak-anak muda tidak cukup hanya diberi tahu bahwa Pulau Penyengat memiliki sejarah besar. Mereka harus diberi kesempatan untuk mengalami sejarah itu, menafsirkannya, bahkan menciptakan karya baru dari warisan yang kita miliki,” tutur Yudi.

Di Pulau Penyengat, gagasan tersebut memperoleh konteks yang kuat.

BACA JUGA:  Menciptakan Kota Bebas Kemacetan: Pembangunan Kereta Bawah Tanah sebagai Solusi

Pulau ini memiliki hubungan erat dengan Raja Ali Haji, pujangga besar Melayu yang mewariskan Gurindam Dua Belas, sebuah karya sastra yang tidak hanya menyimpan keindahan bahasa, tetapi juga nilai-nilai moral, pendidikan, dan pandangan hidup masyarakat Melayu.

Warisan itu sesungguhnya menyediakan sumber inspirasi yang luas bagi penciptaan karya seni.

Dari teks sastra menuju panggung pertunjukan, dari ingatan sejarah menuju ekspresi kontemporer, terbuka kemungkinan agar Penyengat tidak hanya dikenal sebagai tempat lahirnya karya-karya besar masa lalu, tetapi juga sebagai ruang penciptaan kebudayaan hari ini.

Di sinilah kerja kesenian Yudi memperoleh relevansinya.

Ia tidak sedang mengubah fungsi sejarah menjadi hiburan semata. Melalui pendekatan artistik, sejarah justru memperoleh kesempatan untuk dijumpai kembali dengan cara yang berbeda.

Dua Jalan, Satu Penyengat

Apa yang dilakukan pemerintah dan kalangan seniman memperlihatkan dua kebutuhan yang saling berkaitan dalam pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan.

Pemerintah memiliki kewenangan untuk menata kawasan, membangun infrastruktur, dan memperkuat perlindungan terhadap peninggalan sejarah.

Sementara itu, seniman dan komunitas kreatif dapat menghadirkan aktivitas kebudayaan yang membuat kawasan tersebut tidak berhenti sebagai objek kunjungan.

Hubungan inilah yang tampak dalam dua pendekatan Ansar Ahmad dan Yudi Tankcer.

Ansar melalui kebijakan pembangunan membuka peluang bagi peningkatan kualitas kawasan wisata. Yudi melalui kegiatan kesenian menghadirkan pengalaman budaya yang dapat memperkaya kunjungan wisatawan.

“Pemerintah sudah membuka jalan dengan membenahi kawasan dan fasilitasnya. Tugas kami sebagai seniman adalah mengisi ruang itu dengan aktivitas kebudayaan. Kalau keduanya berjalan bersama, Penyengat akan menjadi tempat yang selalu punya alasan untuk dikunjungi,” kata Yudi.

Dalam konteks pariwisata, pendekatan tersebut menawarkan kemungkinan yang lebih luas.

Wisatawan tidak hanya datang untuk menyaksikan bangunan peninggalan kerajaan, berziarah, atau mengabadikan suasana pulau. Mereka juga dapat menikmati pertunjukan yang memperkenalkan kembali kisah, tradisi, dan nilai-nilai kebudayaan Melayu.

Aktivitas seni yang berlangsung secara berkelanjutan berpotensi memperpanjang pengalaman kunjungan wisatawan sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat setempat.

Dengan begitu, pelestarian sejarah dan pengembangan pariwisata tidak harus berjalan sebagai dua agenda yang terpisah.

Keduanya dapat saling memperkuat, sepanjang aktivitas kebudayaan tetap menghormati nilai historis dan kelestarian situs-situs cagar budaya.

Menolak Menjadi Masa Lalu

Pulau Penyengat memiliki kedudukan tersendiri dalam sejarah peradaban Melayu.

BACA JUGA:  Relaksasi Sertifikasi Halal Bukan Alasan Menunda Persiapan, Ini Pesan LPPOM Kepri

Dari pulau ini berkembang tradisi sastra, bahasa, dan pemikiran yang menjadi bagian penting perjalanan intelektual Nusantara. Jejaknya tidak hanya tersimpan dalam bangunan, tetapi juga dalam naskah, karya sastra, dan ingatan kolektif masyarakat.

Karena itu, tantangan terbesar Penyengat sesungguhnya bukan hanya bagaimana menjaga peninggalan masa lalu agar tidak rusak dimakan usia.

Tantangan yang tidak kalah penting adalah bagaimana memastikan warisan tersebut tetap memiliki hubungan dengan kehidupan generasi sekarang.

Sebuah situs sejarah dapat terawat dengan baik, tetapi kehilangan makna sosial apabila masyarakat tidak lagi merasa memiliki hubungan dengannya.

Sebaliknya, aktivitas kesenian yang berakar pada sejarah dapat membuka jalan bagi lahirnya pemahaman, keterlibatan, dan rasa memiliki terhadap warisan kebudayaan.

Dalam kerangka itulah perhelatan seperti Gurindam 12 Purnama memperoleh arti yang lebih luas daripada sekadar agenda pertunjukan.

Ia menjadi salah satu ikhtiar mempertemukan masa lalu dengan masa kini.

Bagi Yudi, keberlanjutan kebudayaan tidak cukup diukur dari seberapa banyak peninggalan sejarah yang berhasil dipertahankan. Kebudayaan juga harus mampu melahirkan kreativitas baru.

“Saya ingin orang datang ke Penyengat bukan hanya untuk melihat apa yang ditinggalkan masa lalu, tetapi juga menyaksikan apa yang sedang diciptakan hari ini. Sebab, kebudayaan harus terus bergerak,” ujarnya.

Pandangan itu sekaligus menegaskan pentingnya peran generasi muda, komunitas seni, masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga masa depan Pulau Penyengat.

Revitalisasi kawasan dapat menyediakan ruang yang lebih baik. Namun, kehidupan kebudayaan hanya akan tumbuh apabila ruang tersebut terus diisi dengan gagasan, aktivitas, dan karya.

Pada titik ini, dua jalan yang ditempuh Ansar Ahmad dan Yudi Tankcer menemukan persinggungannya.

Yang satu membangun ruang bagi sejarah untuk tetap berdiri. Yang lain berusaha membuat sejarah itu kembali bergerak.

Keduanya mengingatkan bahwa pelestarian peradaban tidak cukup hanya dengan menjaga apa yang pernah ada. Ia juga menuntut keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru tanpa kehilangan akar masa lalu.

Pulau Penyengat bukan museum yang pintunya dibuka pada pagi hari, lalu ditutup ketika petang tiba. Ia adalah ruang hidup sebuah peradaban.

Di pulau tempat Raja Ali Haji mewariskan Gurindam Dua Belas itu, sejarah tidak semestinya hanya dikenang. Sejarah harus terus menemukan panggungnya. (ramon damora)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement