Batam
Beranda » Batam Diuji Krisis Beruntun, Ini Seruan Ketum LAM Batam

Batam Diuji Krisis Beruntun, Ini Seruan Ketum LAM Batam

Dato’ Wira Setia Utama Yang Mulia H Raja Muhamad Amin Ibni Raja Haji Muhammad

BATAM – Belum sepenuhnya masyarakat Batam melupakan pemadaman listrik meluas yang sempat melumpuhkan berbagai aktivitas, asap jerebu akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih bergelantung di langit kota ini. Di sejumlah kawasan, persoalan pasokan air bersih pun menjadi bagian dari keseharian warga. Tiga persoalan yang berbeda, tetapi sama-sama menguji kesabaran dan ketangguhan masyarakat.

Di tengah keadaan itu, Ketua Umum Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri Kota Batam, Dato’ Wira Setia Utama, Yang Mulia H Raja Muhamad Amin Ibni Raja Haji Muhammad, menyampaikan seruan kebajikan kepada seluruh masyarakat.

Bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan pula untuk menambah kegelisahan. Tokoh adat Melayu tersebut justru mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan berbagai keadaan yang sedang dihadapi sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kebijaksanaan, dan menjaga ketenteraman negeri.

“Mari kita jaga Batam kita agar tetap aman, damai, dan sejahtera. Apa pun keadaan yang kita hadapi, jangan sampai menghilangkan rasa persaudaraan, kesantunan, dan kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat kita,” demikian pesan Raja Muhamad Amin.

Menurutnya, setiap negeri memiliki perjalanan dan tantangannya sendiri. Tidak semua keadaan berjalan sebagaimana yang diharapkan. Namun, di situlah pentingnya kedewasaan masyarakat dalam menyikapi persoalan.

Telkom Percepat Buyback Saham Rp4 Triliun, Sisa Dana Lebih dari Rp3 Triliun

Ia mengingatkan, kegelisahan yang muncul di tengah masyarakat merupakan sesuatu yang patut dipahami. Akan tetapi, setiap keadaan hendaknya dihadapi dengan pikiran jernih, hati yang lapang, dan semangat mencari jalan keluar.

Menjadi Bagian dari Solusi

BACA JUGA:  Pesan Amsakar di Seminar Pasca Pilkada: "Mari Bersatu untuk Batam Lebih Hebat"

Raja Muhamad Amin berpandangan, kehidupan bermasyarakat membutuhkan keseimbangan antara menyampaikan harapan, menjalankan tanggung jawab, dan memberikan kepercayaan kepada mereka yang memiliki kewenangan serta keahlian di bidang masing-masing.

Berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat, menurutnya, tentu memerlukan penanganan yang sungguh-sungguh, terukur, dan dilandasi tanggung jawab.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan semangat penyelesaian, bukan memperuncing keadaan.

Menguak Kisah Tujuh Perigi yang Diperdebatkan di Pulau Penyengat

“Marilah kita menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Berikan ruang kepada mereka yang memiliki ilmu, keahlian, dan amanah untuk menjalankan tanggung jawabnya. Kita dukung setiap ikhtiar yang baik demi kepentingan masyarakat,” pesannya.

Baginya, kebijaksanaan tidak berarti menutup mata terhadap keadaan. Sebaliknya, kebijaksanaan mengajarkan bagaimana menghadapi keadaan tanpa kehilangan kejernihan berpikir dan keluhuran budi.

Dalam tradisi Melayu, musyawarah dan mufakat menjadi jalan untuk mempertemukan berbagai pandangan. Sementara itu, kesantunan merupakan landasan agar perbedaan tidak berkembang menjadi perselisihan.

Adat Melayu telah lama mewariskan petuah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Sebuah falsafah yang mengajarkan bahwa kehidupan bersama memerlukan kepedulian dan kesediaan untuk saling membantu.

“Kalau ada yang perlu diperbaiki, mari kita perbaiki dengan cara yang baik. Kalau ada yang perlu diselesaikan, mari kita kedepankan musyawarah dan kebijaksanaan. Jangan sampai keadaan yang sulit membuat kita saling menyalahkan dan kehilangan rasa persaudaraan,” ujarnya.

Misteri Blackout Batam: Pagar Listrik Tak Aktif, CCTV Berubah Arah Sebelum Gangguan

Batam, Rumah bagi Semua

Lebih jauh, Raja Muhamad Amin mengingatkan bahwa Batam merupakan rumah bersama bagi masyarakat dari berbagai suku, agama, budaya, dan latar belakang.

BACA JUGA:  Singapura Bidik Batam Jadi Pusat Data Center Asia, PLN Siapkan Listrik Hijau

Kota ini tumbuh bukan hanya karena pembangunan infrastruktur, kegiatan industri, perdagangan, atau investasi, tetapi juga karena masyarakatnya mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Menurutnya, kerukunan sosial merupakan modal yang tidak kalah penting dibandingkan kemajuan ekonomi.

Sebab, pembangunan akan kehilangan sebagian maknanya apabila masyarakat tidak lagi merasakan ketenteraman dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengajak para pemimpin, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, kalangan dunia usaha, dan seluruh warga untuk terus memelihara suasana yang kondusif.

Masing-masing memiliki peran dalam menjaga Batam agar tetap menjadi tempat yang nyaman untuk bekerja, membangun keluarga, dan menanam harapan bagi generasi mendatang.

“Kita mungkin datang dari berbagai daerah, membawa adat dan budaya yang berbeda. Tetapi, ketika hidup di Batam, kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga negeri ini. Jangan biarkan perbedaan mengurangi kasih sayang dan kepedulian di antara kita,” tuturnya.

Adat sebagai Penuntun Kebijaksanaan

Sebagai pemangku adat, Raja Muhamad Amin menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai luhur Melayu dalam kehidupan masyarakat modern.

Menurutnya, adat bukan setakat pakaian kebesaran, gelar kehormatan, atau rangkaian upacara. Lebih dari itu, adat merupakan tuntunan moral yang mengajarkan manusia menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya.

Dalam khazanah Melayu dikenal ungkapan adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Nilai tersebut mengandung tuntunan agar kehidupan senantiasa berpijak pada kebaikan, keadilan, dan tanggung jawab.

Karena itu, setiap keadaan yang dihadapi masyarakat hendaknya menjadi pengingat untuk memperkuat kepedulian, bukan melemahkan kebersamaan.

BACA JUGA:  Tips Cerdas Mengatur Waktu dan Meningkatkan Produktivitas saat Bekerja dari Rumah

Para pemegang amanah diharapkan terus bekerja dengan kesungguhan dan kebijaksanaan. Sementara itu, masyarakat dapat mengambil bagian melalui sikap saling membantu, menjaga ketertiban, dan menyampaikan aspirasi secara santun.

Ia mengingatkan bahwa kesabaran bukan berarti menyerah pada keadaan. Kesabaran justru perlu berjalan bersama ikhtiar, tanggung jawab, dan harapan akan perubahan yang lebih baik.

Di tengah berbagai keadaan yang menguji kehidupan masyarakat Batam, Raja Muhamad Amin berharap semua pihak tetap memelihara optimisme.

Ia mengajak masyarakat tidak membiarkan kegelisahan berkembang menjadi prasangka dan perpecahan. Sebaliknya, setiap tantangan hendaknya memperkuat kesadaran bahwa kehidupan sebuah kota memerlukan kerja sama seluruh pihak.

Baginya, Batam bukan sekadar tempat mencari penghidupan. Kota ini merupakan rumah yang harus dijaga dengan rasa memiliki, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.

“Mari kita rawat Batam dengan hati yang baik, kita jaga dengan akal budi, dan kita bangun dengan semangat persaudaraan. Negeri ini adalah tempat kita hidup bersama. Sudah sepatutnya kita menjaganya bersama-sama,” pesannya.

Raja Muhamad Amin juga mengajak masyarakat mendoakan agar Batam senantiasa mendapat perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT.

Ia berharap setiap kesulitan memperoleh jalan keluar, setiap ikhtiar yang baik membuahkan hasil, dan seluruh masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman, tenteram, serta sejahtera.

“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi negeri kita, memberikan kekuatan dan kebijaksanaan kepada para pemimpin, serta melimpahkan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Batam,” demikian Raja M Amin. (ora)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement