Jelajah Penyengat
Beranda » Menguak Kisah Tujuh Perigi yang Diperdebatkan di Pulau Penyengat

Menguak Kisah Tujuh Perigi yang Diperdebatkan di Pulau Penyengat

Lokasi yang dipercaya dulunya terdapat Perigi Telaga Tujuh, di bibir pantai Kampung Baru.

TAK ramai lagi diperkatakan, bahkan nyaris tak disebut di kalangan penduduk Pulau Penyengat. Terlebih lagi bagi penduduk awam Kota Tanjungpinang, yang secara administratif membawahi Pulau Penyengat, bahwa terdapat danau sebagai sumber air tawar bagi para pelaut yang melewati gugusan Selat Melaka.

Terutama armada pelayaran yang melewati perairan Kepulauan Riau, banyak yang sengaja singgah untuk mendapatkan air sebagai keperluan berlayar dalam waktu lama. Selain danau, di salah satu sisi Pulau Penyengat terdapat kisah tentang Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama.

Terkait cerita perigi ini, masih terdapat perbantahan. Bagi pengunjung yang melakukan lawatan wisata sejarah dan religi ke Pulau Penyengat, diyakini tidak banyak yang mendapat informasi terkait Perigi Telaga Tujuh, yang juga disebut sebagian orang pada masa lalu sebagai Perigi Tujuh Purnama atau Perigi Kaki Pelangi.

Selain itu, keberadaan danau di kaki Bukit Kursi juga sudah jarang diperkatakan. Sementara Bukit Kursi masih menjadi pembicaraan sebagai benteng pertahanan Pulau Penyengat, pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang pada awal abad ke-19, sekitar tahun 1800 Masehi.

Kita perkatakan dulu pasal Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama, yang juga disebut Perigi Kaki Pelangi. Jangan bayangkan mata airnya membentuk tujuh anak sungai atau tujuh parit kecil. Tidak demikian.

Batam Diuji Krisis Beruntun, Ini Seruan Ketum LAM Batam

Perigi ini konon merupakan tujuh sumur batu hampar dengan mata air yang jernih. Namun, seiring berjalannya waktu, perigi tersebut tergerus abrasi air laut karena letaknya persis di bibir pantai sebelah timur Pulau Penyengat.

Saat ini kawasan itu disebut Kampung Baru. Secara fisik, perigi tersebut tidak terlihat lagi seperti perigi-perigi lainnya yang masih ada di Pulau Penyengat.

Untuk sampai ke lokasi, dapat ditempuh sekitar 3–4 menit dari Dermaga Pulau Penyengat, melewati Masjid Sultan Riau yang menjadi ikon pertama saat memasuki Pulau Penyengat, yang juga disebut Pulau Maskawin.

Mengapa Penyengat disebut Pulau Maskawin?

Dalam satu episode sejarah Melayu Riau Lingga Johor dan Pahang, Pulau Penyengat dijadikan mahar pernikahan ketika Sultan Mahmud Riayadsyah meminang dan menikahi Raja Hamidah Ibni Raja Haji Fisabilillah Marhum Teluk Ketapang, yang masyhur disebut Engku Puteri Raja Hamidah.

Telkom Percepat Buyback Saham Rp4 Triliun, Sisa Dana Lebih dari Rp3 Triliun

Peristiwa Pulau Penyengat sebagai mas kawin tersebut, menurut sejarawan Raja Malik Hafizal, berlangsung sekitar tahun 1806.

Hal ini dipaparkan Raja Malik ketika puluhan wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri melaksanakan program Ekspedisi Menulis Penyengat, Sabtu dan Ahad, 17–18 Oktober 2026.

Raja Malik menuturkannya saat rombongan melakukan ziarah ke kompleks pemakaman Engku Puteri. Di kompleks pemakaman tersebut juga terdapat makam Raja Ali Haji, sang pujangga Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang.

Ketika orang menyebut Pulau Penyengat, yang selalu terlintas dalam pikiran adalah sebuah pulau dengan berbagai situs bersejarah. Di antaranya Masjid Sultan Riau yang disebut dibangun dengan paduan pasir, semen, bebatuan, dan putih telur.

Selain itu, Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang pada abad ke-19 juga memiliki banyak situs sejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Di antaranya Istana Kantor, Istana Tabib, Balai Adat, serta Benteng Bukit Kursi dengan sejumlah meriam lama yang masih ada hingga hari ini.

Misteri Blackout Batam: Pagar Listrik Tak Aktif, CCTV Berubah Arah Sebelum Gangguan

Situs sejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya di Pulau Penyengat tidak hanya berupa bangunan lama, tetapi juga banyak makam raja-raja Melayu yang sering diziarahi pelawat wisata dan para peziarah zuriat raja-raja Melayu dari Malaysia, Singapura, Kalimantan, dan Sulawesi.

BACA JUGA:  Ekspor Produk Kerajinan yang Meningkat: Mendorong Kemajuan Industri Kreatif Indonesia

Di antara makam yang dapat diziarahi adalah Makam Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah (Marhum Teluk Ketapang), Makam Engku Puteri Raja Hamidah, Makam Raja Ali Haji, Makam Raja Abdurrahman, Makam Raja Jakfar, dan masih banyak lagi.

Ada hal lain yang banyak orang tidak tahu. Ini boleh jadi sisi tersendiri dari apa yang selama ini kita kenali secara umum terkait situs-situs tersebut, yang tentunya sudah tak asing bagi pelawat wisata yang datang ke Pulau Penyengat.

Sisi lain yang coba kita singkap kembali adalah Perigi Telaga Tujuh. Meski masih menjadi perbantahan dan perbedaan pendapat, keberadaan Perigi Telaga Tujuh boleh jadi pernah ada di Pulau Penyengat ratusan tahun lalu, yang juga disebut-sebut sebagai Perigi Tujuh Purnama dan Perigi Kaki Pelangi.

Secara fisik, Perigi Telaga Tujuh memang tidak dapat ditemui secara utuh seperti Istana Kantor, Masjid Sultan Riau, dan makam-makam raja Melayu yang telah disebutkan. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa berdasarkan kisah-kisah lama yang pernah diceritakan, Perigi Telaga Tujuh pernah wujud, meski belum ditemukan catatan sejarah terkait hal ini.

Berbeda dengan catatan-catatan sejarah berupa manuskrip kuno yang banyak terhimpun di Perpustakaan Balai Maklumat Pulau Penyengat, yang dikelola sejarawan Melayu, Raja Malik Hafizal, zuriat Raja Haji Fisabilillah.

Helmi, seorang seniman yang lahir dan menetap di Pulau Penyengat, menyebutkan bahwa Perigi Telaga Tujuh merupakan perigi yang menjadi bahan cerita dan disebut-sebut sebagai tempat pemandian putri kayangan dalam kisah-kisah pengantar tidur. Kisah serupa menjadi legenda di berbagai negeri Melayu.

Perigi ini dipercaya terletak di Kampung Baru dan diyakini mempunyai daya magis.

Salah satu penanda magis tersebut, biasanya setiap pelangi muncul di langit, salah satu ujung lengkung cahayanya akan langsung menuju Telaga Tujuh. Hal ini pula yang menjadi pengait penamaan Perigi Kaki Pelangi.

Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan Helmi, kisah ini diperkuat oleh pernyataan Ruki Daryudi, biasa disapa Yudi, seorang seniman penata tari yang juga berasal dari Pulau Penyengat.

Kata Yudi, ia pernah menggarap sebuah karya tari inovatif yang diilhami cerita rakyat terkait Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama, yang disebut-sebut pula sebagai Perigi Kaki Pelangi.

Dari kisah perigi ini, Yudi menggarap tari berjudul Secercah Air Terang Bulan. Tari tersebut digarap Yudi pada 2016, dengan komposisi musik oleh Helmi.

Dikisahkan Yudi, karya tari yang digarapnya mengisahkan sejarah masa lalu yang menjadi kejayaan masa depan. Air bukan sekadar pelepas dahaga. Air dan keberadaan perigi juga berkaitan dengan sebab-akibat peradaban. Sejarah masa lalu melahirkan peradaban masa depan.

Siapa pun yang ingin meraih masa depan, maka kenali dan arifilah masa lalu.

Menurut Yudi, ada kisah lain dari Perigi Telaga Tujuh yang juga disebut Perigi Tujuh Purnama. Ketika purnama memasuki masa-masa terang, dimulai dari malam kesembilan hingga purnama penuh atau lima belas hari bulan, purnama di langit Pulau Penyengat jatuh di Perigi Telaga Tujuh. Karena itulah perigi tersebut disebut pula Perigi Tujuh Purnama.

Untuk memastikan posisi Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama, Yudi berkenan mendampingi menuju lokasi tempat perigi ini dipercaya pernah wujud.

Letaknya persis di bibir pantai sebelah timur Pulau Penyengat, masuk kawasan Kampung Baru hari ini.

Di lokasi, didapati beberapa gugusan batu pantai berukuran besar yang oleh warga disebut batu hampar. Ketika kami sampai, air laut sedang pasang. Gugusan batu tersebut hanya terlihat bagian permukaannya, itu pun hanya yang berada di bibir pantai.

Berbincang dengan Bapak Muhammad Amin, peladang di sekitar Perigi Telaga Tujuh.

Di area yang dipercaya pernah menjadi lokasi Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama tersebut, Muhammad Amin (72) sedang membersihkan area sekitar yang dijadikan kebun.

BACA JUGA:  50 Wartawan PWI Kepri Jelajahi Penyengat

Dalam perbincangan singkat, Muhammad Amin menyebutkan bahwa ia hanya pernah mendengar adanya perigi di tepi laut tersebut.

Namun, apakah perigi itu yang dimaksud sebagai Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama, Muhammad Amin tidak dapat menjelaskan secara detail.

Selain Perigi Tujuh Purnama atau Perigi Telaga Tujuh yang kebenarannya masih menjadi perbantahan, boleh jadi perigi ini menambah khazanah dan ingatan kolektif.

Di hamparan Pulau Penyengat terdapat sangat banyak perigi tua dari masa lalu, yang sebagian airnya masih dimanfaatkan hingga hari ini.

Banyaknya sumber air tawar di Pulau Penyengat berkait kelindan dengan penamaan pulau kecil yang luasnya 2.000 meter persegi itu.

Air tawar merupakan perkara penting dalam pelayaran, sehingga banyak kapal singgah dan pelaut turun ke darat untuk mencukupkan cadangan air tawar selama pelayaran.

Kapal-kapal dagang Nusantara, bahkan kapal dagang dan kapal perang Portugis, Inggris, dan Belanda, dipercaya pernah memanfaatkan sumber air tawar yang terdapat di Pulau Penyengat, jauh sebelum pulau itu bernama Pulau Penyengat.

Aswandi Sahri, seorang sejarawan terkemuka Kepulauan Riau yang juga menetap di Pulau Penyengat, menyebutkan bahwa jumlah perigi sebagai sumber air tawar di Pulau Penyengat sangat banyak.

Di antara banyaknya perigi tersebut, sebagian telah dipasang papan nama bertuliskan Perigi Satu, Perigi Dua, dan seterusnya.

Setiap perigi dilengkapi narasi yang tertulis pada papan namanya. Dari banyak perigi tersebut, masih banyak yang berfungsi hingga sekarang dan telah dilengkapi instalasi pipa pendistribusian serta mesin penyedot air untuk memudahkan masyarakat memanfaatkannya.

Banyaknya perigi di Pulau Penyengat berkaitan dengan mulai dihuninya Pulau Penyengat, bersamaan dengan dimulainya pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang pada awal tahun 1800 Masehi.

Tidak ada kaitannya dengan penamaan pulau tersebut.

Ada banyak kampung yang tumbuh bersamaan dengan bertambahnya penduduk. Setiap kampung biasanya memiliki perigi, dan sampai sekarang masih banyak ditemukan di berbagai sudut Pulau Penyengat.

Banyak di antara perigi lama atau perigi tua itu masih difungsikan penduduk Pulau Penyengat hingga sekarang.

Tentang Perigi Telaga Tujuh atau Perigi Tujuh Purnama yang juga disebut Perigi Kaki Pelangi, Aswandi menyebutkan bahwa hal itu tidak dapat dibuktikan dan cenderung merupakan khayalan, bahkan diada-adakan.

Aswandi dengan nada kecewa menyebutkan, belakangan banyak kisah atau perkabaran yang cenderung menyesatkan tentang Pulau Penyengat.

Sebagai seorang sejarawan dengan rekam jejak akademis, Aswandi memilih memperkatakan hal-hal yang masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan dengan fakta-fakta logis sebagai pijakan.

Bagi orang Melayu, penamaan sesuatu sangat berkait kelindan dengan suatu peristiwa.

Contohnya Pulau Penyengat. Ada yang mendasari penamaan itu dari peristiwa para pelaut yang singgah dan mengambil air di pulau tersebut, tetapi tidak merujuk pada banyaknya perigi yang ditemukan.

Banyak pelaut disengat serangga sejenis lebah, sehingga pulau yang semula tidak bernama itu, karena banyak serangga besar sejenis lebah yang menyengat pelaut saat mengambil air, kemudian dikenal sebagai Pulau Penyengat hingga sekarang.

Peristiwa ini tidak ada kaitannya dengan perigi yang banyak dijumpai di Pulau Penyengat. Sebab, perigi-perigi tersebut ada setelah penduduk mendiami Pulau Penyengat. Sementara peristiwa pelaut yang tersengat lebah atau penyengat terjadi sebelum Pulau Penyengat didiami dan sebelum ada orang yang menggali atau membuat perigi.

Peristiwa banyaknya orang disengat serangga sejenis lebah tersebut, kata Aswandi, tidak ditemukan catatan tahun kejadiannya. Namun, dapat diprediksi berlangsung sebelum Pulau Penyengat didiami penduduk.

Jika merujuk pada catatan sejarah, Pulau Penyengat dijadikan hadiah atau semacam mahar oleh Sultan Mahmud Riayadsyah ketika meminang Raja Hamidah Ibni Raja Haji Fisabilillah, yang sering disebut Engku Puteri, pada awal tahun 1800 atau awal abad ke-19.

BACA JUGA:  Tips Cerdas Mengatur Waktu dan Meningkatkan Produktivitas saat Bekerja dari Rumah

Bersamaan dengan itu, banyak orang membuka perkampungan di Pulau Penyengat. Di antara kampung-kampung tersebut, penamaannya mengikuti puak yang mendiami. Di antaranya Kampung Bugis yang didiami banyak orang asal Bugis, Kampung Boyan yang didiami banyak orang Boyan, serta Kampung Ladi yang didiami orang-orang puak Ladi.

Masih ada beberapa kampung lainnya. Setiap kampung tentunya membutuhkan air minum untuk penghuninya, sehingga memiliki perigi masing-masing dengan jumlah yang bervariasi. Seperti halnya Kampung Ladi yang terletak di sekitar situs Balai Adat, periginya masih dapat ditemui di bawah Balai Adat tersebut.

Selain perigi-perigi milik masing-masing kampung pada masa lalu, masih banyak perigi lainnya yang diyakini ada karena kawasan sekitarnya tidak hanya berupa permukiman atau perkampungan, tetapi boleh jadi merupakan kebun penduduk pada masa lalu.

Yang namanya kebun, jelas merupakan tempat beraktivitas manusia yang sudah pasti membutuhkan sumber air. Bagi masyarakat Melayu, perigi merupakan salah satu penanda bahwa di kawasan sekitarnya pernah berlangsung kehidupan manusia.

Salah satu perkampungan yang hingga hari ini masih disebut, meskipun sudah tidak didiami penduduk, terdapat di salah satu tanjung sebelah timur Pulau Penyengat. Tempat itu dikenal dengan nama Kampung Perigi Batu.

Penamaan Kampung Perigi Batu ini tidak lepas dari penemuan sebuah perigi menyerupai lesung besar pada salah satu batu hampar yang ada di tanjung tersebut, dan masih bisa ditemui hingga sekarang.

Lebih jauh, perbincangan dengan Aswandi berfokus pada keberadaan danau kecil di Pulau Penyengat. Danau itu terdapat di depan cagar budaya Istana Kantor. Danau ini telah ada sebelum Istana Kantor didirikan pada awal tahun 1800 Masehi.

Danau itulah yang selalu didatangi para pelaut untuk mendapatkan air tawar bagi keperluan berlayar, baik dalam misi perdagangan maupun misi lainnya.

Tidak jarang, para pelaut yang mengambil air ke danau itu disengat serangga sejenis lebah. Peristiwa tersebut terjadi berulang kali dan dialami pelaut yang berbeda-beda ketika singgah mengambil air. Peristiwa itu terjadi sebelum Pulau Penyengat menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau Lingga Johor dan Pahang, atau sebelum tahun 1800 Masehi.

Dari keberadaan danau di kaki Bukit Kursi yang menjadi tumpuan keperluan air bersih bagi para pelaut tersebut, bermulalah penyebutan Pulau Penyengat.

Meskipun tidak besar, keberadaan danau di kaki Bukit Kursi tersebut tercantum dalam peta Belanda pada abad ke-19, dengan tulisan bahasa Belanda meer, yang dalam bahasa Melayu berarti danau.

Kata Aswandi, keperluan cadangan air tawar untuk pelayaran jelas tidak sedikit. Tidak realistis jika kebutuhan itu bisa terpenuhi hanya dengan air perigi. Sebab, jumlah kapal yang melewati selat antara Tanjungpinang dan Pulau Penyengat sangat ramai. Air danau di kaki Bukit Kursi lebih logis dimanfaatkan para pelaut untuk memenuhi keperluan air tawar selama pelayaran.

Ramainya pelayaran yang melewati perairan Penyengat sempat pula diungkapkan Raja Malik Hafizal dalam penjelasan ringkas tentang Pulau Penyengat secara umum dan penamaan Kerajaan Melayu Riau. Kata Riau bermula dari penyebutan riuh atau ramainya pelayaran di perairan Penyengat menuju Sungai Carang, yang kemudian disebut Hulu Riau.

Hal ini dapat dipercaya sebagaimana dikatakan Aswandi, bahwa penamaan sesuatu bagi puak Melayu tidak serta-merta wujud, melainkan didasari peristiwa-peristiwa tertentu.

Dalam perkembangan wilayah administratif pemerintahan hari ini, Provinsi Kepulauan Riau, yang dulunya Kabupaten Kepulauan Riau, secara resmi berdiri sendiri dan memisahkan diri dari provinsi induknya, Provinsi Riau, sejak tahun 2004.

Sehinggalah penyebutan Riau hari ini lebih identik dengan Kota Pekanbaru yang menjadi ibu kota Provinsi Riau.

Pulau Penyengat yang dulunya berada dalam wilayah Provinsi Riau, sejak 2004 berada dalam daerah administratif Provinsi Kepulauan Riau.*

Catatan Tarmizi, Ketua Bidang Seni Budaya PWI Kepri. Wartawan KepriCek.com.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement