AMPP Vinnex Coatindo Blaster & Painter Competition 2026: Ketika Batam Menguji Kelas SDM Industri Indonesia

H Azizar Lawer, Chairman AMPP Batam Chapter, sosok yang berada di balik suksesnya penyelenggaraan AMPP Vinnex Coatindo Blaster & Painter Competition 2026. Ajang perdana di Indonesia yang menguji keterampilan pekerja industri sesuai standar internasional.

BATAM — Dari balik suara denting baja, percikan pasir abrasif, dan aroma cat pelindung yang akrab di kawasan industri Tanjung Uncang, Batam menorehkan sebuah babak baru. 

Untuk pertama kalinya di Batam, bahkan Indonesia, kompetisi keterampilan blasting dan painting, dua profesi yang menjadi tulang punggung industri maritim, migas, konstruksi baja, hingga manufaktur, digelar dalam standar internasional.

Tak sekadar perlombaan mencari siapa yang paling piawai. Kegiatan bertajuk ‘AMPP Vinnex Coatindo Blaster & Painter Competition 2026’ yang berlangsung di PT Vinnex Coatindo, Sabtu (25/7), ini menjadi panggung mengukur sejauh mana kualitas sumber daya manusia Indonesia mampu memenuhi standar global dalam bidang persiapan permukaan material dan pelapisan pelindung.

Di tengah meningkatnya tuntutan industri terhadap kualitas pekerjaan, kompetisi ini mengirimkan pesan yang lebih besar. Bahwa keunggulan industri tidak lagi hanya ditentukan oleh mesin dan teknologi, tetapi juga oleh kompetensi manusianya.

Ketua Association for Materials Protection and Performance (AMPP) Batam Chapter, Azizar Lawer, menyebut Batam dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini merupakan salah satu simpul industri terbesar di Indonesia dengan konsentrasi galangan kapal, fabrikasi baja, industri minyak dan gas, serta manufaktur yang sangat bergantung pada pekerjaan blasting dan painting.

“Ini bukan sebatas perlombaan. Ini adalah upaya membangun standar kompetensi yang sama agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional,” ujarnya.

Delapan perusahaan dari Batam, Bintan, dan Karimun mengirimkan tim terbaiknya. Setiap perusahaan menurunkan tiga orang, terdiri atas seorang blaster, seorang painter, dan seorang supervisor yang bertugas mengawasi sekaligus memastikan seluruh pekerjaan mengikuti prosedur teknis yang berlaku.

Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari berbagai sektor industri strategis, mulai dari galangan kapal hingga fabrikasi dan konstruksi, memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga kerja bersertifikasi kini menjadi perhatian bersama.

Tiga peran, satu misi. Seorang blaster, painter, dan supervisor membentuk satu tim dalam AMPP Vinnex Coatindo Blaster & Painter Competition 2026 di Batam. Ketiganya diuji melalui simulasi pekerjaan industri dengan standar yang berlaku di proyek-proyek internasional.

 

BACA JUGA:  Dorong Ekonomi Keluarga, Erlita Ajak Perempuan Batam Berwirausaha

Lebih dari Adu Keterampilan

Kalau dilihat sekilas, kompetisi ini tampak seperti lomba keterampilan biasa. Namun sesungguhnya proses yang dijalani peserta menyerupai standar pekerjaan nyata di proyek-proyek industri internasional.

Sejak pagi, kegiatan diawali dengan seminar, registrasi peserta dan sesi jejaring (networking), dilanjutkan pembukaan resmi, sambutan penyelenggara, pengenalan aturan pertandingan, hingga technical meeting yang menjelaskan prosedur keselamatan, metode penilaian, dan standar teknis yang akan digunakan.

Baru setelah seluruh prosedur administratif selesai, kompetisi dimulai. Tahap pertama adalah blasting competition. Pada tahap ini peserta ditantang melakukan surface preparation, yakni membersihkan permukaan baja menggunakan material abrasif hingga mencapai tingkat kebersihan tertentu sesuai standar internasional. 

Pekerjaan ini menjadi fondasi utama sebelum proses pelapisan dilakukan. Sedikit saja kesalahan dalam tahap ini dapat memperpendek umur perlindungan material dan memicu korosi lebih cepat.

Setelah seluruh peserta menyelesaikan pekerjaan, tiga orang juri melakukan assessment dan judging, mengevaluasi kualitas hasil blasting secara detail berdasarkan standar internasional. Ketiga juri yang dipercaya adalah Rizal Trisna, Febio Veraza, dan Tjahyo Wibowo.

Usai jeda makan siang yang juga dimanfaatkan sebagai ajang networking dan pameran industri, kompetisi berlanjut ke kategori painting. Di sinilah ketelitian benar-benar diuji.

Peserta tidak hanya diminta mengaplikasikan cat pelindung, tetapi juga memastikan teknik penyemprotan, ketebalan lapisan (dry film thickness), keseragaman hasil akhir, hingga kepatuhan terhadap prosedur keselamatan kerja memenuhi standar yang berlaku di industri global.

Sembari kompetisi berlangsung, panitia menghadirkan seminar teknis yang membahas perkembangan terbaru dalam dunia perlindungan material, mulai dari inovasi sistem pelapisan, standar inspeksi, hingga teknologi pengendalian korosi. Dengan demikian, peserta yang tidak sedang bertanding pun tetap memperoleh pembaruan pengetahuan langsung dari para praktisi industri.

BACA JUGA:  Polda Kepri Gelar Operasi Pengawasan Minyak Goreng Bersubsidi di Batam

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pengumuman pemenang, penyerahan penghargaan kepada sponsor, penutupan resmi, dan sesi foto bersama.

Mengapa Blasting dan Painting Sangat Penting?

Di luar kalangan industri, profesi blaster dan painter mungkin terdengar sederhana. Padahal, hampir seluruh aset industri yang terbuat dari logam bergantung pada kualitas pekerjaan mereka.

Lambung kapal, anjungan lepas pantai, tangki penyimpanan minyak, jembatan baja, pabrik petrokimia, hingga pembangkit listrik memerlukan perlindungan terhadap korosi. Sebelum lapisan pelindung diaplikasikan, permukaan logam harus dipersiapkan secara sempurna melalui proses blasting.

Kesalahan kecil dalam proses tersebut dapat menyebabkan lapisan cat gagal melekat, memicu korosi dini, memperpendek usia aset, bahkan meningkatkan biaya perawatan hingga miliaran rupiah.

Karena itulah industri internasional menempatkan pekerjaan blasting dan painting sebagai profesi yang membutuhkan standar kompetensi tinggi, sertifikasi khusus, serta pengawasan yang ketat.

Azizar mengatakan, target utama kompetisi bukan sekadar melahirkan juara. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya kompetensi.

Pemenang memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp15 juta untuk juara pertama, Rp9 juta bagi juara kedua, dan Rp6 juta untuk juara ketiga. Namun hadiah sesungguhnya justru berupa pelatihan serta kesempatan mengikuti sertifikasi profesi internasional yang disediakan AMPP bersama para sponsor.

“Sertifikasi internasional membuka peluang karier yang jauh lebih luas. Tenaga kerja Indonesia akan memiliki pengakuan kompetensi yang bisa digunakan dalam proyek-proyek di dalam maupun luar negeri,” kata Azizar.

Menurutnya, kompetisi seperti ini telah lama menjadi agenda rutin di berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Indonesia baru memulainya, dan Batam dipercaya menjadi kota pertama penyelenggara.

Membangun Ekosistem Industri

Kompetisi ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah industri dibangun melalui kolaborasi. Selain menghadirkan peserta dari berbagai perusahaan, kegiatan mendapat dukungan perusahaan-perusahaan besar di bidang coating dan material protection, seperti Jotun, Hempel, PPG, Parmadar, serta sejumlah mitra industri lainnya. Bahkan, salah satu sponsor berasal dari Amerika Serikat dan hadir langsung sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia.

BACA JUGA:  Iftar Gemilang di Nongsa Point Marina Dibuka Meriah, 600 Pengunjung Hadiri Hari Perdana

Di sela kompetisi, para peserta, kontraktor, pemasok material, produsen cat, konsultan, dan praktisi industri saling bertukar pengalaman. Atmosfer ini memperlihatkan bahwa kompetisi bukan sekadar arena persaingan, melainkan ruang membangun jejaring profesional.

Sementara itu, Country Manager AMPP Malaysia, Mervin Pereira, menilai kompetisi perdana ini menjadi investasi jangka panjang bagi dunia industri.

Menurutnya, peningkatan kualitas tenaga kerja akan bermuara pada meningkatnya kualitas pekerjaan, efisiensi proyek, serta daya saing perusahaan di tingkat regional maupun global.

Hal senada disampaikan Pengawas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kepulauan Riau, Bukti Rantau, yang menyebut kompetisi tersebut sebagai kesempatan langka bagi para pekerja untuk mengukur kemampuan mereka berdasarkan standar internasional.

“Kompetensi yang diakui secara nasional maupun internasional akan menjadi bekal penting bagi karier tenaga kerja. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Muhammad Zaini, yang membuka kegiatan secara resmi, menyebut penyelenggaraan kompetisi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Batam.

“Pemerintah Kota Batam bangga karena kompetisi ini pertama kali digelar di Batam sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia. Mudah-mudahan ini menjadi awal lahirnya berbagai kompetisi internasional lainnya di Kota Batam,” kata dia.

Selama ini Batam dikenal sebagai kota industri dengan ribuan pabrik, galangan kapal, dan kawasan manufaktur. Namun, kompetisi ini menunjukkan bahwa kekuatan Batam tidak hanya terletak pada investasinya, melainkan juga pada kualitas manusianya.

Ketika standar internasional mulai diterapkan dalam pengembangan tenaga kerja lokal, Batam sesungguhnya sedang mengirimkan sinyal yang kuat: kota ini tidak hanya ingin menjadi tempat industri beroperasi, tetapi juga menjadi pusat lahirnya tenaga kerja industri berkelas dunia. (mon)