Batam  

Mengalir Tiada Akhir, Ikhtiar Buralimar Menghidupkan Kembali Wakaf Batam

Rapat perdana Badan Wakaf Indonesia Kota Batam, Selasa (20/5), dipimpin langsung Buralimar (kemeja hitam).

Batam – Sudah hampir lima tahun berlalu sejak Perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kota Batam mengalami kevakuman.

Sekretariat sepi, program-program mandek, dan potensi wakaf mengendap tanpa arah. Tapi semua itu akan berubah. Setidaknya itu yang diyakini Buralimar.

Pria yang dikenal luas sebagai birokrat dan seniman itu kini memanggul tanggung jawab baru sebagai Ketua BWI Batam masa jabatan 2025–2028.

Penetapannya diteken lewat Keputusan Badan Pelaksana BWI Nomor 058/BWI/P-BWI/2025, tanggal 15 Mei 2025.

“Alhamdulillah, kami mulai bergerak lagi,” ujarnya saat ditemui usai rapat perdana di kawasan Batam Centre, Selasa (20/5).

“Kami ingin menjadikan wakaf sebagai kekuatan baru bagi umat, bukan sekadar simbol ibadah, tapi alat pemberdayaan nyata.”

Kepengurusan baru ini diperkuat 11 orang pengurus dan 3 anggota Dewan Pertimbangan yang diketuai birokrat ulung lainnya, H Firmansyah.

Meskipun belum resmi dilantik, mereka tak menunggu aba-aba. Sejumlah langkah strategis langsung dibahas: pengajuan dana operasional ke Kementerian Agama, renovasi sekretariat, penyusunan program kerja, hingga aktivasi divisi-divisi teknis.

BACA JUGA:  Prakiraan Cuaca Batam Hari Ini: Waspadai Perubahan Cuaca

Buralimar tahu tantangan yang dihadapi tak sederhana. Wakaf, meskipun tergolong ibadah jariyah dengan pahala abadi, masih kalah populer dibanding zakat, infak, dan sedekah.

Padahal, di dalamnya tersimpan kekuatan ekonomi yang bisa menggerakkan banyak hal, dari pendidikan hingga kesehatan, dari usaha mikro hingga rumah ibadah.

“Kalau satu orang saja wakaf Rp10 ribu per tahun, dan hanya 30 persen dari 900 ribu Muslim di Batam yang ikut, kami bisa kumpulkan Rp9 miliar dalam tiga tahun,” ujarnya sambil tersenyum tipis, seakan menyadari betapa besar mimpi itu, dan betapa menantangnya untuk diwujudkan.

Batam bukan pemain baru dalam urusan wakaf. Jauh sebelum BWI berdiri secara nasional pada 2004, kota ini telah memiliki lembaga lokal bernama Badan Wakaf Batam.

Mereka punya ruko yang dijadikan sekretariat dan klinik bersalin. Tapi dari masa ke masa, semangat itu sempat menguap. Kini, Buralimar dan timnya ingin menghidupkannya kembali.

BACA JUGA:  Info Cuaca BMKG: Kota Batam Hari Ini, 19 Juli, Berawan dan Hujan Ringan

Struktur baru BWI Batam terdiri dari lima divisi: Pembinaan Nazhir, Humas dan Literasi, Kerja Sama dan Advokasi, Pendataan dan Sertifikasi, serta Pengawasan dan Tata Kelola.

Masing-masing dirancang untuk menjawab kebutuhan zaman, dari persoalan legalitas tanah wakaf hingga kampanye literasi wakaf uang melalui media sosial.

Menurut Buralimar, potensi wakaf tak hanya dalam bentuk tanah atau bangunan. Wakaf uang, meskipun relatif baru dalam literasi masyarakat, justru bisa jadi tulang punggung penggerak ekonomi umat.

“Dengan pengelolaan profesional, wakaf bisa menopang beasiswa pendidikan, klinik gratis, atau koperasi berbasis masjid,” ujar dia.

Buralimar menyebut sejumlah organisasi yang akan diajak bersinergi, mulai dari BAZNAS, Dewan Masjid Indonesia, hingga ormas Islam seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

“Wakaf ini bukan milik satu kelompok. Ini milik semua. Kita perlu gotong royong,” katanya.

Ada alasan personal di balik kesungguhan Buralimar memimpin BWI Batam. Baginya, wakaf bukan sekadar urusan administratif, melainkan investasi spiritual yang mengalirkan pahala bahkan setelah ajal menjemput.

BACA JUGA:  889 Titik Salat Idul Fitri di Batam, Wali Kota Amsakar Salat di Dataran Engku Putri

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW: jika anak Adam wafat, terputus amalnya kecuali tiga hal: doa anak yang saleh, ilmu yang bermanfaat, dan sedekah jariyah.

“Wakaf adalah sedekah jariyah,” ujarnya. “Bayangkan, kita sudah tiada, tapi masih memberi manfaat untuk orang lain. Di situlah letak kekuatan wakaf, mengalir tanpa akhir.”

Dengan tagline “Wakaf, Pahalanya Mengalir Tiada Akhir”, BWI Batam ingin membawa pesan sederhana namun kuat. Bahwa setiap orang bisa mewakafkan sesuatu, sekecil apa pun nilainya, selama itu diniatkan untuk kebaikan yang terus hidup.

“Doakan kami bisa bekerja maksimal,” kata Buralimar, memungkasi perbincangan. “Ini bukan hanya soal jabatan, tapi soal amanah. Kalau bisa kami tunaikan dengan baik, insya Allah akan jadi jembatan amal yang panjang, lebih panjang dari umur siapa pun di antara kita…” (ram)