BATAM — Di dasar laut sekitar Batam, Telkom sedang memperkuat salah satu jalur penting masa depan ekonomi digital Indonesia. Melalui pengembangan jaringan kabel bawah laut internasional dan fasilitas pusat data, kota industri ini dipersiapkan menjadi simpul konektivitas regional. Langkah tersebut berjalan seiring dengan menguatnya kinerja PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang membukukan pendapatan Rp113,5 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Pendapatan tersebut tumbuh 3,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ditopang oleh empat segmen bisnis utama TelkomGroup, yakni Business to Consumer (B2C), B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Di antara keempat segmen tersebut, bisnis internasional menjadi salah satu yang menarik perhatian. Bukan hanya karena pertumbuhan pendapatannya, tetapi juga karena pengembangan infrastruktur digital yang menempatkan Batam dalam jaringan konektivitas global.
Sepanjang Januari hingga September 2026, segmen International membukukan pendapatan Rp8,9 triliun, meningkat 5,8 persen secara tahunan. Pendapatan dari bisnis jaringan bahkan melonjak 50,2 persen menjadi Rp1,37 triliun, didorong meningkatnya kebutuhan konektivitas dari perusahaan teknologi berskala global (global hyperscalers) dan operator telekomunikasi internasional (global carriers).
Untuk menopang pertumbuhan tersebut, anak usaha TelkomGroup, Telin, terus memperluas jaringan kabel laut internasional.
Salah satu tonggaknya adalah pendaratan kabel laut ICE 1 di Batam pada Juli 2026. TelkomGroup juga mengembangkan proyek kabel laut INSICA yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Kedua pengembangan infrastruktur ini menjadi bagian dari penguatan posisi Batam sebagai pusat konektivitas internasional yang terintegrasi dengan fasilitas pusat data NeutraDC.
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan pengembangan jaringan internasional merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat peran Indonesia dalam ekosistem digital global.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” ujar Nanang dalam keterangan resminya, Senin (2/11/2026).
NeutraDC Tumbuh, Batam Kian Strategis
Penguatan konektivitas internasional tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis pusat data TelkomGroup.
Melalui NeutraDC, Telkom mengembangkan infrastruktur pusat data untuk melayani kebutuhan penyimpanan, pemrosesan, dan pertukaran data, termasuk meningkatnya permintaan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hingga September 2026, NeutraDC mencatatkan pendapatan Rp1,39 triliun, tumbuh 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) bahkan mencapai 35 persen secara tahunan, dengan margin EBITDA sebesar 40,9 persen.
Kinerja tersebut antara lain ditopang kontribusi fasilitas pusat data di Singapura dan Cikarang, serta pengembangan layanan komputasi AI melalui Neutra Compute.
Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas pusat data hingga 400 megawatt (MW), dengan aspirasi jangka panjang mencapai 1 gigawatt (GW).
Untuk merealisasikan rencana tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki kemitraan strategis guna memperkuat kemampuan teknis, memperluas akses pasar, dan mendukung kebutuhan pendanaan.
Bagi Batam, pengembangan kabel laut internasional dan integrasinya dengan fasilitas pusat data menjadi bagian penting dalam memperkuat posisi kota ini sebagai simpul infrastruktur digital di kawasan.
Laba Bersih Rp14,4 Triliun
Di tingkat konsolidasi, kinerja keuangan TelkomGroup menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang sembilan bulan pertama 2026.
Pendapatan perusahaan mencapai Rp113,5 triliun, meningkat 3,5 persen secara tahunan. Kontributor penting pertumbuhan tersebut adalah bisnis Data, Internet & IT Services yang mencatatkan pendapatan Rp71,5 triliun, naik 8,3 persen.
Sementara itu, EBITDA TelkomGroup mencapai Rp55,5 triliun, meningkat 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan margin 48,9 persen.
Laba bersih perseroan tercatat Rp14,4 triliun, dengan margin laba bersih 12,7 persen.
Adapun laba bersih normalisasi, yakni laba yang telah disesuaikan dengan pos-pos tertentu, meningkat 3,9 persen menjadi Rp16,5 triliun, dengan margin 14,6 persen.
Nanang mengatakan pencapaian tersebut mencerminkan kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di tengah perubahan pola konsumsi layanan telekomunikasi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan digital.
“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal,” katanya.
Menurut Nanang, perubahan tersebut membuka peluang bagi TelkomGroup untuk mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari infrastruktur dan kemampuan konektivitas yang dimiliki.
“Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu menangkap peluang industri digital ke depan,” tambahnya.
Pendapatan Rata-rata Pelanggan Naik
Pada segmen B2C yang mencakup layanan seluler dan internet rumah, Telkom membukukan pendapatan Rp81,6 triliun, tumbuh 3,5 persen secara tahunan.
Sementara itu, Telkomsel mencatatkan pendapatan Rp82,9 triliun, meningkat 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan Telkomsel terutama ditopang bisnis digital yang menghasilkan pendapatan Rp60,7 triliun, naik 7,7 persen.
Strategi pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, dan penguatan layanan digital turut mendorong peningkatan rata-rata pendapatan per pelanggan atau average revenue per user (ARPU).
ARPU seluler Telkomsel naik 7,1 persen menjadi Rp45.400. Pada saat bersamaan, pendapatan per unit konsumsi data atau data yield meningkat 6,5 persen.
Di bisnis internet rumah, IndiHome membukukan pendapatan Rp19,1 triliun di tengah penataan basis pelanggan.
Meski demikian, sejumlah indikator operasional menunjukkan perbaikan secara kuartalan.
Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 9,63 juta pelanggan. ARPU IndiHome juga naik 3,2 persen menjadi Rp217.700.
Pertumbuhan positif juga dicatatkan segmen B2B Infrastructure dengan pendapatan Rp7,1 triliun, meningkat 5,5 persen secara tahunan.
Kinerja segmen ini ditopang layanan pusat data, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur telekomunikasi.
Anak usaha TelkomGroup, Mitratel, membukukan pendapatan Rp7,01 triliun dari bisnis menara telekomunikasi dan fiber to the tower (FTTT), tumbuh 1,8 persen.
Mitratel juga mencatatkan EBITDA Rp5,81 triliun dan laba bersih Rp1,55 triliun, dengan margin masing-masing 82,9 persen dan 22,2 persen.
Sementara itu, segmen B2B ICT menghasilkan pendapatan Rp11,2 triliun, tumbuh 3,1 persen.
Salah satu pendorong utamanya adalah pasar usaha kecil dan menengah atau small and medium enterprises (SME), yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan 10,2 persen menjadi Rp3,3 triliun.
Pertumbuhan tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah pelanggan Indibiz sebesar 10,9 persen menjadi sekitar 771.100 pelanggan.
Bisnis konektivitas internet berkecepatan tinggi atau high-speed internet (HSI) Telkom Solution juga tumbuh 6,2 persen secara tahunan.
Telkom Rampingkan 14 Entitas
Selain memperkuat pertumbuhan bisnis, TelkomGroup melanjutkan transformasi perusahaan melalui program TLKM 30.
Transformasi ini dijalankan melalui empat pilar utama, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional, menyederhanakan struktur bisnis, mengoptimalkan aset, serta memperkuat peran Telkom sebagai perusahaan induk strategis.
Hingga kuartal III 2026, Telkom telah menyelesaikan penataan 14 entitas usaha. Rinciannya, tiga entitas didivestasi, sembilan entitas ditutup, dan dua entitas digabungkan.
Dari sisi investasi, TelkomGroup merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp15,7 triliun, setara 13,8 persen dari pendapatan perusahaan.
Sebanyak 94,3 persen dari belanja modal tersebut dialokasikan untuk segmen B2C dan B2B Infrastructure, terutama guna memperkuat kapasitas dan jangkauan konektivitas digital.
Telkom juga menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas, termasuk melalui penyesuaian pembayaran operasional dan pelaksanaan program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP).
“Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini,” ujar Nanang.
Menurutnya, penyederhanaan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas merupakan langkah penting untuk membangun organisasi yang lebih ramping, sederhana, dan lincah dalam menghadapi perubahan industri.
Salah satu langkah besar transformasi TelkomGroup adalah penyelesaian pemisahan aset dan bisnis konektivitas serat optik grosir (wholesale fiber connectivity) ke InfraNexia pada 30 September 2026.
Melalui proses tersebut, lebih dari 90 persen aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia.
Infrastruktur tersebut akan dikembangkan menggunakan model bisnis carrier-neutral dan open-access, sehingga dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh berbagai penyedia layanan.
Model ini diharapkan meningkatkan optimalisasi aset sekaligus membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.
Dengan langkah tersebut, TelkomGroup tidak hanya memperkuat bisnis layanan digital kepada pelanggan, tetapi juga mengembangkan peran sebagai penyedia infrastruktur bagi ekosistem telekomunikasi yang lebih luas.
Nanang optimistis rangkaian transformasi dan penguatan bisnis tersebut akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan perusahaan hingga akhir tahun.
“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” tutupnya. (dik)




Komentar