Pariwisata
Beranda » GMM Matangkan Kampung Wisata Madani di Batu Besar

GMM Matangkan Kampung Wisata Madani di Batu Besar

Rapat Gerakan Masyarakat Madani (GMM) membahas pematangan rencana pengembangan Kampung Wisata Madani di Kampung Melayu, Batu Besar, Nongsa, Batam, Sabtu (17/10/2026). Rapat membahas persiapan perencanaan, dukungan anggaran, dan pelibatan masyarakat dalam pengembangan kawasan wisata tersebut.

BATAM — Gerakan Masyarakat Madani (GMM) mematangkan rencana pengembangan Kampung Wisata Madani di Kampung Melayu, Batu Besar, Nongsa, Batam. Kawasan ini diproyeksikan menjadi proyek percontohan (pilot project) pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam rapat GMM di Atok Kafe, Sabtu (17/10/2026). Sejumlah hal menjadi perhatian, mulai dari pematangan perencanaan teknis, dukungan anggaran, koordinasi dengan Pemerintah Kota Batam, hingga pelibatan masyarakat setempat.

Ketua Harian GMM, Tengku Zulkifli AKA, mengatakan Wali Kota Batam Amsakar Achmad telah menyetujui penetapan kawasan tersebut sebagai Heritage Wisata Madani. Namun, mekanisme penyusunan perencanaan dan penganggaran akan bergantung pada sumber pembiayaan yang digunakan.

“Wali kota sudah setuju menetapkan Heritage Wisata Madani. Jika anggarannya bersumber dari APBD, Pemko Batam akan menunjuk konsultan untuk menyusun perencanaan dan penganggarannya,” kata Zulkifli.

Ia menjelaskan, konsultan yang ditunjuk pemerintah nantinya bertanggung jawab menyusun dokumen perencanaan beserta kebutuhan anggaran program tersebut. Adapun jika GMM yang ditunjuk sebagai konsultan, penyusunan perencanaan dan anggaran akan menjadi tanggung jawab GMM.

Relaksasi Sertifikasi Halal Bukan Alasan Menunda Persiapan, Ini Pesan LPPOM Kepri

“Kalau GMM yang ditunjuk sebagai konsultan, tentu kami yang akan menyusun perencanaan dan anggarannya,” kata dia.

BACA JUGA:  Diskon Visa on Arrival di Kepri: Tarif Turun dari Rp500 Ribu ke Rp250 Ribu

Menurut Zulkifli, persiapan pengembangan Kampung Wisata Madani perlu terus dimatangkan melalui koordinasi dengan para pemangku kebijakan agar gagasan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi program yang terukur.

Sementara itu, Pembina GMM, Raja Muchsin, menekankan pentingnya politik anggaran untuk memastikan rencana tersebut mendapat dukungan pembiayaan. Realisasi Kampung Wisata Madani, menurut dia, tidak cukup hanya mengandalkan gagasan dan kesiapan teknis, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan penganggaran.

Persoalan anggaran juga menjadi perhatian Sekretaris GMM Batam, Syamsul Ibrahim. Ia menyoroti belum terakomodasinya proyek Kampung Wisata Madani dalam anggaran pemerintah 2027. Wajar bila kondisi tersebut, menurutnya, menimbulkan sikap skeptis terhadap peluang realisasi program dalam waktu dekat.

Di sisi lain, dukungan masyarakat setempat dinilai menjadi modal penting bagi pengembangan kawasan. Salah satu pengurus GMM, Massiara, menyampaikan bahwa tokoh masyarakat Nongsa yang ditemuinya beberapa hari sebelumnya menyambut baik rencana Kampung Wisata Madani.

Kapolda-PWI Kepri Bersua di Penyengat, Kenangan Lama Mengemuka

Meski demikian, masyarakat berharap dilibatkan secara penuh dalam proses pengembangan kawasan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Pelibatan tersebut dinilai penting agar program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat bagi warga setempat.

BACA JUGA:  Media Cetak di Era Digital: Menghadapi Tantangan di Dunia yang Semakin Online

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, menilai komunikasi antara GMM sebagai penggagas Kampung Wisata Madani dan Pemerintah Kota Batam sesungguhnya telah terjalin dengan baik. Menurut dia, kesamaan gagasan dan hubungan yang telah terbentuk perlu ditindaklanjuti dengan perumusan program yang jelas.

“Sebenarnya buku dan ruas sudah bertemu. Chemistry GMM sebagai penggagas Kampung Wisata Madani dengan Pemko Batam sudah terjalin. Tinggal bagaimana mem-breakdown-nya menjadi program yang terukur,” kata Ardiwinata.

Ia menegaskan, penentuan lokasi awal menjadi langkah penting untuk memulai pengembangan.

“Yang penting lokasi pertama sebagai pilot project sudah ketemu, yakni Batu Besar, Nongsa,” ucapnya.

50 Wartawan PWI Kepri Jelajahi Penyengat

Ardiwinata juga mengingatkan pentingnya menerapkan konsep pariwisata pentahelix, yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, akademisi, dan media. Kolaborasi berbagai unsur tersebut diperlukan untuk mendukung pengembangan destinasi secara berkelanjutan.

BACA JUGA:  Maksimalkan Pasokan Air Warga, Ini Langkah BP Batam

Selain itu, pengembangan Kampung Wisata Madani perlu memperhatikan aksesibilitas, amenitas, atraksi wisata, dan atraksi buatan. Keempat aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun daya tarik kawasan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.

Ia menambahkan, pemberdayaan masyarakat setempat merupakan pekerjaan rumah yang harus ditangani secara serius. Dalam hal ini, GMM diharapkan berperan aktif mendorong keterlibatan masyarakat agar mereka tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan destinasi, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata.

Dengan ditetapkannya Kampung Melayu, Batu Besar, sebagai lokasi percontohan, GMM perlu melanjutkan pematangan rencana dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah serta masyarakat. Dukungan kebijakan, kepastian penganggaran, dan partisipasi warga menjadi sejumlah faktor penting dalam mewujudkan Kampung Wisata Madani. (ora)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement