BATAM – Isu bahwa Amsakar Achmad, calon Wali Kota Batam nomor urut 2 yang berpasangan dengan Li Claudia Chandra, takut berdebat dengan mahasiswa, muncul di tengah persaingan politik yang kian memanas. Menanggapi isu tersebut, Amsakar menepis anggapan itu dengan tegas.
“Saya terlahir dan ‘menjadi’ karena kehidupan kampus. Oleh sebab itu, darah aktivis kampus tak akan pernah lepas dari kehidupan saya,” ungkap Amsakar pada Rabu (13/11).
Dia mengklarifikasi bahwa dialog dan debat bersama mahasiswa adalah bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai aktivis dan pemimpin.
Sebagai mantan aktivis kampus, Amsakar memiliki latar belakang yang panjang di dunia akademis.
Ia pernah menjabat sebagai dosen dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) di Universitas Riau Kepulauan (Unrika) Batam serta terlibat dalam pembentukan fakultas tersebut.
Berbekal pengalaman ini, Amsakar sangat memahami peran penting mahasiswa sebagai penggerak perubahan sosial. Baginya, kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat lahirnya semangat perubahan.
Amsakar aktif berdialog dengan mahasiswa di berbagai kampus di Batam, termasuk di Unrika, tempat ia mendengar langsung aspirasi dan harapan mereka.
Dengan latar belakang aktivis, ia terbiasa dengan kritik dan perdebatan yang sehat. Menurutnya, isu bahwa ia takut berdialog dengan mahasiswa tidak berdasar dan hanya upaya lawan politik untuk menjatuhkan citranya.
Sebaliknya, Amsakar melihat perdebatan dengan mahasiswa sebagai kesempatan untuk memahami kebutuhan generasi muda. Ia berharap mahasiswa tetap kritis dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat dan terlibat aktif dalam pembangunan daerah.
“Jiwa aktivis bukan sekadar masa lalu bagi saya, tetapi bagian dari diri saya yang terus hidup,” ujarnya.
Kepemimpinan Amsakar dibangun di atas prinsip keterbukaan dan dialog, menjadikannya pemimpin yang siap mendengar dan berdiskusi, terutama dengan generasi muda yang ia pandang sebagai penggerak utama perubahan di Batam. (ris)
