BATAM – Kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2024 diprediksi akan membawa dampak positif bagi Batam, terutama dalam hal investasi dan relokasi pabrik.
Dengan rencana Trump untuk menaikkan tarif impor produk asal China sebesar 60%, banyak industri dari China diperkirakan akan mencari lokasi baru untuk memproduksi barang-barang mereka, dan Batam menjadi salah satu destinasi utama.
Ketua Bidang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia, Tjaw Hioeng, menjelaskan bahwa kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Trump sebelumnya pada tahun 2018, yang juga mengakibatkan banyak pabrik China relokasi ke Batam, akan kembali menguntungkan kawasan industri di Batam-Bintan-Karimun (BBK).
“Ini jadi sentimen positif untuk Batam. Produk China yang masuk ke Amerika akan dikenakan tarif tinggi, sehingga banyak perusahaan China yang akan memilih relokasi ke Asia Tenggara, khususnya Batam,” kata Tjaw, seperti dikutip bisnis, Jumat (8/11/2024).
Menurut Tjaw, pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, tarif impor untuk produk China mencapai 20% dan menyebabkan industri di Batam dipenuhi oleh relokasi pabrik-pabrik asal China.
Kini, dengan tarif 60%, diperkirakan lebih banyak perusahaan yang akan memilih Batam sebagai lokasi baru mereka. Namun, Batam harus siap menghadapi persaingan ketat dari Singapura, Johor, dan Vietnam, yang juga berusaha menarik investasi serupa.
“Batam harus siap menarik investasi baru ini, dengan syarat infrastruktur yang baik, serta regulasi dan insentif fiskal yang mendukung dunia usaha,” tambahnya.
Secara geografis, Batam memiliki keunggulan dengan posisinya yang strategis di Selat Malaka, yang merupakan jalur perdagangan utama dunia.
Namun, Tjaw juga mengingatkan beberapa tantangan yang perlu diselesaikan, seperti biaya logistik yang tinggi dan ketiadaan industri pendukung untuk rantai pasokan produk komponen.
“Biaya produksi di Batam masih cukup besar. Jika infrastruktur dan regulasi tidak diperbaiki, investor bisa saja memilih lokasi lain,” ungkap Tjaw.
Meski begitu, sektor non-migas, seperti industri ramah lingkungan dan semikonduktor, menunjukkan potensi yang semakin berkembang di Batam.
Namun, situasi politik yang sedang berlangsung di Indonesia, dengan Pemilu 2024, akan mempengaruhi keputusan investasi, sehingga investor masih akan menunggu untuk melihat kebijakan pemerintah selanjutnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menilai bahwa kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Trump dapat mengubah peta persaingan industri global.
“Jika Trump tetap dengan kebijakan lama, China akan mencari negara lain untuk mendirikan pabrik, dan Batam bisa memanfaatkan peluang ini,” kata Rafki.
BP Batam mencatatkan perkembangan positif dalam realisasi investasi di Batam, yang tumbuh sebesar 55,70% hingga semester pertama 2024, dengan nilai total mencapai Rp 12,31 triliun.
Potensi investasi yang lebih besar diperkirakan akan semakin mengalir jika kebijakan Trump tetap mengarah pada perang dagang yang lebih intensif dengan China. (r)
