KITA hidup di zaman ketika menunduk menjadi kebiasaan nasional. Menunduk di depan pejabat. Menunduk saat bertanya di forum publik. Menunduk tatkala dibelai kekuasaan. Menunduk di hadapan bangsa asing.
Menunduk, bukan karena sopan santun Melayu yang indah itu, tapi karena takut kehilangan jatah, takut kehilangan pekerjaan, takut kehilangan kursi, takut kehilangan muka, takut tak dipinjami utang luar negeri.
Dulu ada seorang remaja yang bahkan saat ajal mengintai di ujung pisau ayahnya, memilih untuk mengangkat dagunya. Namanya Ismail.
Ismail tak menangis. Tidak pula menjerit. Dalam banyak tafsir, Ismail meminta ayahnya untuk mengikatnya kuat-kuat, agar tak melawan.
Ismail menopang dagunya—secara harfiah dan simbolis—sebagai penegasan: aku tak lari, aku tak takut, aku tidak tunduk pada rasa takut.
Ismail menjadi lambang keberanian tertinggi. Keberanian untuk tidak tunduk pada ketakutan manusiawi, tetapi takluk hanya kepada satu. Kebenaran Ilahi.
Ribuan tahun kemudian, Ole Romeny, penyerang naturalisasi dari Belanda, berdiri di titik putih pada menit akhir babak pertama. Stadion Utama Gelora Bung Karno menahan nafas tadi malam.
Di hadapannya berdiri tembok raksasa bernama tekanan. Ekspektasi suporter, beban sejarah, dan reputasi lawan dari negeri raksasa Asia, Tiongkok.
Romeny, yang dikenal sebagai si Anak Skena karena latar dan gayanya yang tak biasa di dunia sepak bola nasional, mengeksekusi penalti dengan dingin, nyaris beku.
Satu langkah pendek, tembakan ke pojok, dan bola bersarang tanpa ampun. Romeny berlari ke pinggir lapangan melakukan selebrasi khasnya: tangan menopang dagu.
Sebuah gestur sederhana tapi bertenaga. Keep your head up. Angkat kepalamu. Jangan tunduk. Terus berjalan, terus percaya diri, terus menatap, bahkan bila lutut gemetar di masa-masa sulit.
Bangsa ini sudah lama lupa bagaimana cara menatap sejajar. Presiden tunduk kepada bayangan presiden sebelumnya. Politisi tunduk kepada taipan. Ulama tunduk pada undangan istana.
Wartawan tunduk pada kontrak kerjasama bernilai dua atau tiga juta setiap bulannya dari hampir semua instansi pemerintah di Batam dan Kepri. Semuanya menunduk, bahkan sebelum diperintah.
Kita menjadi bangsa yang terlalu sering menunduk. Kita tunduk kepada bangsa lain dengan utang, kepada pasar global dengan kebijakan tambal sulam, kepada beberapa ekor naga yang menentukan arah negara.
Kita tunduk kepada bayang-bayang masa lalu dan menolak memegang kendali masa depan. Kita kehilangan kemampuan untuk menopang dagu.
Kita tak pernah seberani Ismail ‘alaissalam, dan tak cukup bergaya seperti Romeny. Kita hanya belajar menyesuaikan diri.
Sejak kecil kita dilatih agar tidak mencolok, agar tak dianggap sombong, agar tahu diri di depan ‘yang lebih besar’. Tapi kadang, terlalu tahu diri justru membuat kita kehilangan diri.
Mungkin itu sebabnya, Idul Adha setiap tahun datang bukan hanya untuk mengingatkan soal hewan yang harus dikorbankan, tapi juga untuk bertanya: bagian mana dari dirimu yang sudah waktunya disembelih?
Apakah itu rasa takutmu sendiri? Atau mungkin ego yang bersembunyi di balik pangkat dan jabatan? Mungkin keserakahan dibungkus jargon pembangunan? Atau kemunafikan yang kau sebut taktik bertahan hidup?
Mungkin kita semua butuh satu pagi di mana tak ada yang menunduk. Wartawan menolak amplop. Guru menolak titipan. Hakim menolak intervensi. Dan presiden menolak instruksi dari balik layar.
Pagi di mana semua orang —seperti kisah luhur Nabiyullah Ismail atau cerita kecil selebrasi Ole Romeny — berani menopang dagu sendiri.
Sebab, pada akhirnya, apalah arti sebuah bangsa, jika seluruh rakyatnya takut menatap masa depan? Allahu Akbar wa Lillaahi al-hamd. Maaf lahir dan batin. (ramon damora)






